Jogja dan Coffeeshopnya



Saya dari awal memulai niat untuk menulis ini sudah tahu, mungkin akan banyak pro dan kontra akan tulisan ini. Lagipula pengetahuan saya cuma minim. Perlu diketahui sebelumnya bahwa tulisan selanjutnya setelah kalimat ini saya tulis berdasarkan opini dan pengalaman saya saja. Selalu ada perbedaan pasti. Difference is normal. it's very human.

 
Jadi fenomena Jogja mulai awal tahun 2014 adalah mulai banyak coffeeshop berdiri dengan aneka macam konsep. Sebenarnya tidak semua bisa saya bilang coffeeshop, karena beberapa mungkin ada yang punya istilah sendiri-sendiri. Namun untuk memudahkan saya akan menyamakan kosakata saja menjadi coffeeshop. Kembali lagi ke awal mulai menjamurnya coffeeshop di Jogja, banyak yang menawarkan berbagai macam konsep yang menarik. Ada yang memiliki tempat yang bisa dibilang cukup fotogenic, fotoable, instagramable, ootdable atau apapun istilah itu, coffeeshop ini memiliki ambiance yang bisa dibilang cukup nyaman, menarik untuk diabadikan dan secara tidak langsung menjadi bagian dari awal tren "coffee and coffeeshop" di instagram.

Kemudian muncul juga konsep yang lebih berkonsentrasi ke edukasi. Coffeeshop yang sedikit mengesampingkan konsep interior yang saya bahas di atas, dan lebih berkonsentrasi ke tren ang mulai terkenal akhir tahun ini, Manual Brewing. Ini konsep yang bisa dibilang susah-susah gampang, bisa dibilang tidak memerlukan modal sebanyak coffeeshop yang membutuhkan espresso machine, namun membutuhkan pendekatan yang khusus ke customer dengan halus. Karena waktu itu demam kopi belum seperti sekarang (efek sebuah film) dan mau tidak mau harus dengan sabar mengedukasi customer , dan membutuhkan seorang artisan yang mampu memberikan pemahaman dengan jelas dan singkat namun mampu memberikan kesan.



Namun yang akan saya bahas sebenarnya adalah sebuah poin yang saya yakin bisa dibahas oleh semua orang, bahkan untuk yang bukan penggemar kopi sekalipun. Rumusan masalahnya adalah, Apakah sebuah coffeeshop benar-benar hanya mampu mengandalkan kualitas menu semata , atau kualitas desain interior semata? atau perpaduan dua itu?



Saya pernah bilang, sejak jaman Instagram mulai cukup naik di Jogja, bisa dibilang presentase konsep sebuah tempat seperti cafe dan restoran mungkin naik jadi 50%, berbanding seimbang dengan kualitas menu yang dimiliki tempat itu. Namun ini tidak mutlak juga, bahkan ada juga tempat dengan konsep yang menarik, desain interior yang tidak bisa dilewatkan untuk diabadikan, menyajikan menu yang secara visual indah  namun mengesampingkan kualitas dari segi rasa justru berhasil menarik beberapa pengunjung. Nah kembali ke coffeeshop, saya rasa perbandingan itu lebih tricky.



Saya sudah mengunjungi beberapa coffeeshop di Jogja ini. Saya selalu menemukan keunikan di setiap tempat. Ada satu tempat , sebut saja A yang selalu menjadi destinasi saya ketika membutuhkan tempat untuk sekedar "ngadem" bersantai apapun itu. Namun setelah beberapa kali kesana saya menemukan sesuatu yang cukup janggal. Setiap saya kesana, (dan saya yakin barista di sana mungkin sudah hafal muka saya) saya selalu merasa seperti pelanggan baru. Saya suka tempatnya, nyaman dan homey. Saya suka kopi disana, namun setelah menemukan kejanggalan itu saya baru menyadari kenapa saya tidak pernah nyaman ke tempat itu apabila sedang sendirian atau tanpa teman mengobrol. Jujur tidak ada komunikasi spesial selain saat akan memesan menu dan membayar. Saya baru menyadari kejanggalan itu setelah menuju ke sebuah coffeeshop yang baru saja buka di Jogja, sebut saja B. Padahal baru pertama saya ke tempat B, dan interaksi saya dengan barista terjalin begitu cepat dan membuat saya sangat nyaman untuk sekedar menghabiskan waktu meskipun sedang sendirian. Meskipun dari segi tempat B mungkin tidak mampu menyaingi tempat A tadi. Namun entah kenapa ada sensasi "feels like 2nd home" yang anehnya tidak bisa saya temukan di tempat A yang sudah berkali-kali saya datangi.

Saya jadi berpikir, apakah di coffeeshop mungkin ada satu poin yang cukup membedakan dengan cafe biasa? Engagement dengan customer?



A very simple greet seperti "Halo mas Dadad lama nggak kesini nih" dan berbagai macam sapaan kepada customer yang menunjukkan bahwa mereka sudah menganggap customer itu adalah salah satu customer reguler dan dihafal,  saya sadari cukup berarti sekali. Banyak orang yang kurang bisa memulai percakapan dengan orang lain yang belum begitu dia kenal, dan bahkan membutuhkan sedikit "pancingan" dari pihak kedua. Nah, berdasarkan pengalaman saya dan opini saya. Engagement dengan customer itu sangat-sangat penting di sebuah coffeeshop. Mau itu hanya berupa kedai, angkringan apapun itu. Kalau seorang peracik, barista, server , apapun itu istilahnya mampu mengakrabkan dirinya dengan customer sepertinya terlihat sepele namun entah kenapa meninggalkan kesan yang begitu kuat kepada saya dari sudut pandang customer. Saya juga jadi tidak ragu sekedar mampir kesana ketika bingung mau ke coffeeshop mana sendirian, dan semakin bersemangat apa saja yang akan saya obrolkan ketika mampir ke tempat itu.



Well, sebenarnya saya kesusahan menyampaikan yang ada di kepala saya lewat tulisan. Semoga tidak ada kesalahpahaman juga. Namun kesimpulannya, sebuah coffeeshop tidak hanya bisa mengandalkan produk atau konsep tempat atau perpaduan keduanya. Salah satu hal yang mungkin kelihatan sepele namun menurut saya wajib ada di sebuah coffeeshop ya "Engagement dengan Customer" . Mungkin salah satu gerai yang bisa dicontoh seperti Starbucks. Ada salah satu kebanggaan atau rasa bahagia yang cukup spesial ketika anda sudah tidak perlu menyebutkan nama anda untuk ditulis di cup.

A simple "Halo mas" will do for me.






No comments:

Post a Comment