SEFTAMA : Ruang Semu 1


                                                                          1

“Kamu tahu apa yang terbaik dari hujan?” Cecil bertanya kepada Sefta sembari duduk memandang ke langit.
“Apa?” Sefta menjawab dengan tidak terlalu antusias.
“Langit yang lebih cerah, matahari yang lebih indah..ini seperti perumpamaan, selalu ada sesuatu yang indah menanti setelah kita mengalami hari yang kelabu” Cecil tersenyum.
“Apa selalu begitu? Apa setelah hari yang kelabu selalu ada langit yang lebih indah?”
“Selalu..pasti selalu begitu.. Sebenarnya itu hanyalah langit biasa yang terlihat lebih indah karena hari yang kelabu membuat kita lupa betapa indahnya hari yang cerah, langit yang biru tanpa awan”
“Manusia memang aneh” Sefta menyengir lalu ucapan terakhirnya menggema berkali-kali. Senyum Cecil, mata Cecil, seluruh paras Cecil muncul dan hilang berkali-kali.
 

Sefta membuka matanya. Melihat ke sekelilingnya. Hanya ada hamparan rumput hijau tanpa akhir. Dia tertidur entah sejak kapan. Bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. “Apa yang aku lakukan disini?”. Kemudian pertanyaannya tergantikan lagi. “Dimana Cecil?”

Sefta berjalan. Tapi mungkin ini bukan disebut berjalan. Dia lebih merasa seperti melayang. Kakinya tidak menyentuh tanah. Badannya seringan kapas. Bukan justru lebih ringan.  Sefta melihat anggota tubuhnya. Aneh. Masih berbentuk anggota tubuh pada umumnya, tapi kelihatan sedikit transparan. Sefta masih menggunakan pakaian, pakaian favoritnya. Polo Tshirt dan Celana kain berwarna hitam. Pertanyaan muncul lagi dibenaknya. Pertanyaan yang dari tadi belum terjawab.
“Sebenarnya apa yang aku lakukan disini?”
“Kamu sudah meninggal, berhentilah mengulangi pertanyaan tadi” Seseorang menjawab pertanyaannya. Seolah mendengar isi hatinya. Seorang manusia. Bukan, ini bukan manusia. Ini lebih menyerupai makhluk dengan badan menyerupai manusia tapi transparan. Lebih transparan daripada dirinya. Seperti asap yang berbentuk. “Kita yang ada disini semua sudah meninggal, tinggal menunggu giliran kita ke alam selanjutnya.. entah kapan”

Wajahnya tidak terlalu kelihatan. Namun Sefta bisa merasakan kepedihan waktu makhluk ini berbicara. Kepedihan bercampur dengan kepasrahan. Bentuknya benar-benar menyerupai manusia atau mungkin dia dulunya seorang manusia. Badannya tinggi, sedikit besar, sampai dibagian bawahnya tidak nampak kakinya, namun hanya sebuah asap yang berasal dari satu titik. Kemudian pikiran Sefta kembali focus ke jawaban dari makhluk ini.

“Meninggal? Aku sudah meninggal?” Sefta rasa-rasanya tidak percaya namun akhirnya menyadari tanda-tandanya sudah terlihat jelas. Bentuk badannya yang terlihat sedikit transparan, seolah akan terkikis sedikit demi sedikit. Bagaimana Sefta bisa melayang bukan berjalan lagi. Sefta sudah meninggal. Namun dia masih belum ingat kenapa.

“Wajar kalau kamu masih belum bisa mengingatnya” Makhluk itu lagi-lagi menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak Sefta ucapkan. Pertanyaan yang hanya muncul di benaknya. “Nanti pasti kamu akan mengingatnya, mengingat kenapa kamu bisa meninggal”
“Siapa kamu?” Sefta bertanya kepada makhluk tadi. Merasa aneh, melihat makhluk tadi seakan bisa mendengar isi hatinya. “Bagaimana kamu bisa tahu apa yang ada di benakku?”
“Namaku..Padang..Entah siapa nama asliku, aku sudah lupa..aku hanya menggunakan nama dimana tempatku berada saat ini..belakangan ini aku selalu terbangun di padang rumput ini” Padang, berhenti berbicara kemudian tangannya mengarah ke Sefta. “Tentu saja, setiap kamu berpikir, dan membuat pertanyaan dalam benakmu aku pasti akan mendengarnya”

Sefta kebingungan mendengar jawaban dari Padang. Semua ini terlalu susah untuk dicerna. Terbangun di sebuah tempat asing, memori yang mengabur, tubuh yang semakin mengabur, dan seorang makhluk transparan menyerupai manusia. “Apa ini yang disebut dengan hantu?” Ah lagi-lagi dia bertanya dalam benaknya.

“Pertanyaanmu semakin aneh, kalau aku hantu aku mungkin sudah kembali ke dunia dan menakut-nakuti manusia” Sefta sekilas seperti melihat Padang tertawa , namun itu mungkin. Melihat ekspresi 

Padang saja Sefta tidak bisa. Padang seperti asap, hampir tak terlihat. “Mungkin makhluk-makhluk seperti kita ini, hanya arwah yang punya urusan yang belum terselesaikan di dunia fana”
“Arwah penasaran?” Sefta bertanya kepada Padang kali ini mengeluarkan suara, bukan hanya dipendam dalam benaknya.
“Penasaran? Aku bahkan tidak tahu apa yang membuatku penasaran..Aku sudah lupa..Apa kau ingat sesuatu?”
“Cecil…. Aku hanya ingat seorang gadis bernama Cecil, aku lupa dia siapa, mungkin kekasihku, atau mungkin hanya orang yang aku suka..”

Sefta terdiam. Tiba-tiba pikirannya melayang lagi, menuju ke suatu tempat. Di depannya ada seorang wanita sedang mengendarai sepeda, dan kemudian menengok ke arahnya. Cecil. Cecil tersenyum, rambutnya berwarna coklat , diikat.

“Jangan melamun sambil bersepeda bodoh” Cecil kemudian tertawa, memacu sepedanya lebih kencang lagi. Sefta berusaha mengejarnya, sambil memandangi Cecil dari belakang. Mencoba memutar ulang, bagian ketika Cecil tertawa yang berangsur-angsur menghilang dan digantikan scene lain.

Sefta memandang ke depan dan melihat Padang ada di depannya, seperti menatapnya.

Sefta menerka-nerka apa yang baru saja terjadi. Dia baru saja bermimpi, atau mungkin melamun?

“Aku juga sering mengalami itu ketika pertama kali datang kesini, hanya saja aku lupa apa yang harus kuingat” Padang lagi-lagi mendengar isi hatinya. “Seperti memori kita yang diputar ulang.. namun itu hanya memori yang penting saja..atau mungkin..”

Padang terdiam, kemudian berbicara lagi “Atau mungkin memori tentang urusan yang belum terselesaikan…..astaga aku baru menyadarinya..kenapa tidak terpikirkan olehku!”

“Maksudmu?” Sefta bertanya kepada Padang.
“Memori yang muncul dan hilang tadi, itu memori yang berkaitan dengan urusan, masalah, atau apapun itu.. sesuatu yang belum sempat kita selesaikan di dunia fana..

“Sesuatu yang membuat kita penasaran…mungkin kita memang arwah yang penasaran..terikat dengan beban yang masih tertinggal di dunia fana” Sefta terkejut, begitu pula Padang. Mereka berdua terkejut perkataan ini keluar dari seseorang yang baru hari ini berada tempat ini.
“Sebutan itu entah kenapa kurang menarik bagiku, arwah penasaran.. mungkin nanti kita akan menemukan sebutan yang lebih baik lagi” Sefta berbicara lagi, sementara Padang daritadi hanya diam

 “Kau baik-baik saja?”
“Ya, aku hanya sedang menyimpulkan sesuatu, mengaitkan segalanya..untuk mendapatkan sebuah jawaban” Padang melihat ke bawah. Kepalanya yang terlihat samar-samar menunduk ke bawah.
“Jawaban apa?”
“Mengapa aku ada disini..”

to be continue

1 comment:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete