Renungan Sebelum Menyerah




Rokokku hampir habis. Aku melirik ke persediaanku. Ah tinggal sebatang. Aku melanjutkan meminum botol bir terakhirku. Aku sedang melamun ditemani musik dari handphoneku.

All the other kids with the pumped up kicks
You better runm better run, outrun my gun
All the other kids with the pumped up kicks
You better run, better run, faster than my bullet

Pikiranku kembali melayang 10 tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di bangku SD di Sandy Hook di Newtown. Gambaran diriku, Adam Lanza si anak bengal, yang memiliki saudara kembar Ryan Lanza, kakak yang jenius. Kakakku selalu menjadi korban bully di sekolahnya, untung ada aku yang tidak tanggung-tanggung berkelahi dengan orang-orang yang menyakiti kakakku. Alhasil, orang tuaku selalu dipanggil ke sekolah dan aku selalu menjadi korban amukan mereka saat di rumah. Kakakku? aman. Dia membalas kebaikanku dengan mengerjakan PRku dan mengajariku beberapa pelajaran yang tak kumengerti.

Hal ini terus berlanjut sampai aku dan kakakku menempuh pendidikan highschool di Newtown High School. Aku selalu ada di sampingnya, tidak ada yang berani menganggunya sejak aku menjadi semacam pengawalnya. Beberapa anak memanggilku Pengawal Ryan. Aku yakin kalau tidak ada aku mungkin Ryan sudah mampus dihajar senior-senior. Awal masuk sekolah Ryan nyaris dihajar senior gara-gara aku sedang ke kamar mandi. Aku langsung mendatangi mereka dan berkelahi dengan mereka. Minggu pertamaku di sekolah dan orang tuaku sudah dipanggil di sekolah. Aku di skors 2 minggu. Tapi aku tetap berangkat ke sekolah. Mengawasi Ryan. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.

Di mata orang tuaku, Ryan adalah seorang yang sempurna. Mungkin setengah dari tabungan masa depan mereka sudah dialihkan untuk Ryan. Mereka berharap banyak kepada Ryan. Sedangkan untuk Adam, aku si anak bungsu yang hobi membuat masalah? Mungkin tidak ada. Mereka mungkin berpikir aku hanya akan menjadi gelandangan atau anggota geng motor. Di rumah ini salah satu yang bisa mengerti aku hanya Ryan. Dia tahu aku tidak seburuk aku, dia tahu aku menyayanginya. Ryan selalu membantu masalah akademikku sejak elementary school. Nilaiku selalu terselamatkan berkat Ryan. Mungkin karena itu sekoalh belum mengeluarkanku.

Beberapa tahun ke depan masa depan Ryan dan aku mulai berbeda. Aku memutuskan tidak melanjutkan ke jenjang kuliah sementara Ryan memutuskan untuk kuliah di La Salle University mengambil jurusan Ilmu Informasi Komputer. Sementara aku bekerja di sebuah mini market kecil di Newtown. Aku merasa Ryan sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri. Aku harus mulai bekerja menghidupi diriku sendiri sejak aku memutuskan pindah dari rumah. Ini adalah tahun ketigaku tidak berkomunikasi dengan kedua orang tuaku.

Aku tersadar dari lamunanku.

Rokok terakhirku habis, birku juga sudah habis. Tiba-tiba terdengar suara keras dari megaphone di luar.

"Siapapun yang ada di dalam, segeralah menyerah.. kami sudah mengepung sekolah ini..Ini peringatan terakhir"

Aku sedang berada di sebuah SD. Duduk memandang mayat-mayat bersimbah darah. Ada beberapa guru perempuan dan beberapa anak SD. Mereka semua mati karena ditembak. Aku tidak tahu berapa jumlahnya.


Bukan aku yang melakukannya. Tapi Ryan.

Beberapa jam yang lalu Ryan meneleponku. Suaranya kelihatan gelisah. Dia memintaku datang ke Sandy Hook Elementary School. Tempat kami bersekolah dulu waktu SD. Aku segera berlari menuju Sandy Hook. Feeling mengatakan terjadi sesuatu yang buruk dengan Ryan.

Sesampai di Sandy Hook aku masuk lewat pintu belakang. Ada keramaian di pintu depan Sandy Hook sepengamatanku. Apa yang terjadi? Aku bertanya dalam hati. Apakah ini ada hubungannya dengan Ryan?
Aku pun masuk dengan leluasa dan menemukan lorong bersimbah darah dan beberapa mayat anak kecil bersimbah darah dan luka tembakan di beberapa badan mereka. Beberapa masih sekarat. Aku mengacuhkannya. Aku mencari Ryan. Sampai akhirnya aku menemukannya di sebuah kelas.

Ryan yang tidak aku kenal. Badannya gemetaran, membawa pistol. Mukanya pucat dan mengeluarkan keringat dingin.

"Apa yang kau lakukan?"

"Ini bukan keinginannku. huks.." Ryan terisak menahan tangis. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku terlalu banyak tekanan.. Mereka selalu saja berharap lebih kepadaku, aku tidak mampu lagi...aku..aku.. tiba-tiba saja aku sudah melakukan hal ini dan aku tersadar aku telah melakukan pembunuhan masal"

Ryan mengumam tidak jelas. Histeris sekali.

"Astaga" Aku menutup mulutku. Kemudian aku memeluk Ryan. Menenangkannya.

Dan disinilah aku menggantikan posisinya. Ryan sudah lari lewat pintu belakang. Polisi tampaknya tidak begitu tahu ada pintu belakang di sekolah ini. Bahkan gurupun ada yang tidak tahu pintu belakang ini. Hanya beberapa siswa yang tahu soal pintu belakang Sandy Hook.

Aku sudah 30 menit berada di sini. Untung aku menemukan bir di kulkas ruang guru dan satu bungkus rokok berisi 5 batang rokok. Tampaknya waktuku sudah habis. Saatnya menyerah.

Kalau kalian bertanya kenapa aku mau menggantikan posisinya. Aku sudah menjawabnya di cerita sebelumnya. Aku Adam Lanza, adalah pengawal Ryan. Aku akan selalu melindunginya bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun. Ryan masih memiliki masa depan yang cerah, tidak sepertiku. Ryan anak kesayangan orang tuaku. Aku tidak mau, Ayahku terkena serangan jantung dan ibuku menjadi sakit-sakitan karena mengetahui Ryan menjadi penjahat. Biarlah aku yang menanggung semuanya. Mereka pasti tidak akan terkejut.

Aku berjalan menuju pintu depan. Membawa pistol. Melewati beberapa mayat anak SD yang kelihatannya mencoba lari. Aku mulai melihat keramaian di depan sekilas. Ada polisi, mobil ambulan, beberapa wali murid, anak SD yang kelihatannya berhasil selamat.

Sebelum mencapai pintu depan aku mengarahkan pistol ke kepalaku.

Ryan, lanjutkanlah hidupmu, biar aku yang menanggung akibat perbuatanmu ini. Jaga dirimu baik-baik.

Peluru menembus kepalaku.



No comments:

Post a Comment