Memory Emma


Cuaca pagi ini cerah. Aku menikmati lari pagiku dengan sahabatku Emma di Camden Park. Kami berhenti sejenak setelah hampir 1 jam berlari mengitari taman ini.

"Hey, apakah kamu datang besok ke Emirates Stadium? Arsenal melawan Everton"

Emma masih ngos-ngosan. Berusaha mengendalikan nafasnya.

"Aku datang, apa gunanya aku beli tiket musiman mahal-mahal kalau tidak datang"

Ya kami berdua adalah Gooner dan Goonerette. Emma dan aku hampir tidak pernah melewatkan pertandingan di kandang Arsenal. Kami teman sejak kecil, dibesarkan dengan nyanyian-nyanyian pendukung Arsenal, dan lahir di tahun Arsenal meraih titel liga kesembilan dengan kemenangan dramatis atas Liverpool. Kami memang disibukkan dengan kerja kami masing-masing, Emma bekerja sebagai konsultan gedung dan aku bekerja sebagai penulis lepas di Daily Mirror, tapi buat kami menonton Arsenal di Emirates Stadium adalah hal yang wajib kami lakukan bersama.

"Aku tidak bisa membayangkan kalau aku dan kamu tidak pernah bertemu dan saling mengenal Mark"

Emma memulai pembicaraan yang absurd saat kami duduk di kursi taman setelah memutuskan berhenti berlari.

"Hahaha, kalau kita tidak saling mengenal, tidak akan ada yang menemanimu menonton pertandingan Arsenal dulu waktu  kamu middle school dan pasti Ibumu tidak akan mengijinkanmu menonton sendirian waktu itu"

"Dan satu lagi Mark, tidak akan ada yang membantumu meminjami uang untuk membeli syal di Highbury dulu,apakah kau ingat waktu kau merengek kepada orang tuamu hahahaha"

Kami bersekolah di Torriano waktu junior high school dan berpisah waktu aku masuk sekolah khusus anak laki-laki di Hall dan Emma di Hampstead, sekolah khusus anak perempuan. Tapi di luar jam sekolah, kami tetap bermain bersama. Bahkan beberapa mengira kami berkencan. Padahal Emma dan Aku sudah seperti kakak dan kakak,kenapa? kami sama-sama anak sulung yang menginginkan kehadiran kakak. Kami berjanji untuk saling mengingatkan dan menasehati layaknya kakak. Lucu ya? Tapi begitulah hubunganku dengan Emma. Unik dan disatukan oleh satu klub sepakbola. Arsenal.

Aku berpisah dengan Emma di jalan Camden High Street. 

"Hey, Mark.. pastikan waktu kita menonton Arsenal besok kau membawa syalmu, kau terlihat aneh tanpanya"

"Baiklah cerewet"

Emma menjulurkan lidahnya dan berlari menuju ke utara. Kami berpisah menuju rumah masing-masing.

Malam harinya aku menerima sebuah pesan dari Emma.

"Malam bodoh, besok pagi aku ingin meminjam buku Hawksmoor milikmu, bisakah kau membawakannya?"

"Baiklah...1 jam, 1 poundsterling.."

"Pecundang"

Emma dan aku memiliki kesamaan lain. Kami berdua adalah penggemar berat buku Peter Ackroyd yang bergenre fiksi. Mulai dari London Lickpenny yang sudah ada sebelum kami lahir sampai The Canterbury Tales, buku terakhirnya yang terbit tahun 2009. Koleksiku dan Emma berbeda-beda. Kami memutuskan untuk mengoleksi buku Peter berbeda-beda. Lebih murah. Bukuku miliki Emma begitu pula sebaliknya.

Aku mengeluarkan buku Hawksmoor. Memasukkan ke dalam tasku. Aku orangnya pelupa. Apalagi besok aku harus berangkat kerja. Sialnya aku harus mengantarkan buku ini ke rumah Emma terlebih dahulu. 

Aku menguap lebar. Sudah waktunya tidur. Bertemu mimpi.

Kriiiiiiiiiiinggg.. kriiiiiiingg...

Suara alarm jam weker membangunkanku tepat jam 6 pagi. Astaga, aku masih mengantuk. Aku masih berusaha bangun dari kasur, tanganku yang panjang sudah berhasil mematikan jam weker berisik tadi. Aku bisa tidur lagi atau bangun dan segera menuju rumah Emma. Aku mengambil pilihan kedua.

Aku sudah berpakaian lengkap. Orang rumah yang terbangun hanyalah Mom. Dia sudah menyiapkan telur mata sapi dan bacon untukku serta orang juice.

"Sarapanlah dulu Mark,nanti kau sakit"

"Thanks mom.,,tentu saja, aku sedang lapar"

Dalam sekejap aku menghabiskan sarapan buatan Mom. Aku segera bergegas menuju rumah Emma.

"Aku berangkat dulu, Mom"

"Take care"

Perjalan menuju rumah Emma tidak begitu jauh. Tapi perjalananku ke kantor cukup jauh, aku harus menggunakan Subway untuk menuju Barkin and Dagenham. Aku sedikit berlari. Hari ini aku ada meeting di kantor, sebagai penulis lepas aku sebenarnya tidak perlu berangkat ke kantor, tapi meeting hari ini penting sekali.

Aku sampai di depan rumah Emma. Rumah nomor 99. Aku bergegas mengetuk pintunya. Seseorang membuka pintunya. Ah tampaknya Mrs. Jacobsen, ibu Emma.

"Pagi, Mrs. Jacobsen, bisa aku bertemu dengan Emma?"

"Emma? Siapa yang kau maksud dengan Emma?"

"Emma Jacobsen, anak perempuanmu" Aku mengulangi lagi nama Emma, mungkin Mrs. Jacobsen salah dengar.

"Dengar Mark, aku tidak tahu maksudmu, aku tidak punya anak perempuan, satu-satunya anakku hanya Frank"

Aku merinding mendengar perkataan barusan. Bisa-bisanya Mrs.Jacobsen bilang seperti itu.

"Anda pasti bercanda Mrs.Jacobsen, anda memiliki anak perempuan bernama Emma, dia bekerja sebagai konsultan di Camden Consultant Group, kami berteman sejak kecil, dan kami selalu menonton pertandingan Arsenal bersama"

"Aku tidak tahu apa maksudmu Mark, tampaknya kau mengigau, apakah kau sakit?" Mrs. Jacobsen tampak khawatir melihat sikapku.

"Bisa aku masuk ke dalam Mrs. Jacobsen?"

"Baiklah, apakah kau ingin bertemu Frank?"

Aku tidak sempat menjawab. Aku sudah masuk ke rumah Emma. Aku menuju meja dimana keluarga Emma menaruh foto-fotonya.

Sama sekali tidak ada foto-foto Emma di sekumpulan foto keluarga Emma. Hanya ada foto Mr. and Mrs Jacobsen dan Frank, adik Emma. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Emma pernah tinggal di rumah itu. Aku hendak menuju kamarnya. Tapi Mrs. Jacobsen mendatangiku lagi.

"Mark apa yang terjadi denganmu? Tampaknya kau sakit, wajahmu pucat sekali"

Siapa yang tidak pucat mengetahui sahabatnya tiba-tiba hilang ditelan bumi seperti tidak pernah dilahirkan. Aku memutuskan untuk pulang dari rumah Emma.

"Emma...hey Emma di mana kau?.. " Aku berteriak ke seluruh penjuru rumah sampai ke kamar Emma. Kamarnya kosong dan kotor. Seakan-akan tidak ada yang pernah tinggal di sana. Sementara Mrs.Jacobsen mulai kesal.

"Aku rasa lebih baik kau pulang Mark, atau aku harus menelpon ibumu untuk membuatmu pulang?"

"Maaf Mrs.Jacobsen, aku pamitan dulu"

Aku keluar dari rumah Emma takut melihat Mrs. Jacobsen yang mukanya sudah seperti kepiting rebus.

Aku berjalan menuju Camden Subway. Pikiranku kacau sekali. Dimana Emma? Kemana kau Emma?

"Brakkk" Aku menabrak seorang pria berpakaian lusuh.

"Maaf aku tidak melihat jalan" aku membantunya berdiri.

"Yang menghilang akan segera kembali kalau kau menemukannya"

Pria itu mengucapkan sesuatu yang aneh kepadaku. Dia melanjutkan ucapannya.

"Dia berada di dunia paralel, mereka membawanya kesana.." Pria itu berbicara sambil memandang ke bawah. Aku tidak bisa melihat mukanya. "Saat mereka membawanya mereka menghilangkan jejaknya, menghapus memorinya dari orang-orang terdekatnya, tapi ada kecacatan..mungkin memorimu tentangnya terlalu kuat..sehingga tidak bisa terhapus"

Dia mengusap hidungnya tapi mukanya masih memandang ke bawah. "Kau hanya harus menemukan jejaknya yang belum sempat mereka hapus sebelum hari berganti, tunjukkan kepada keluarganya..maka dia akan kembali"

"Kau hanya harus menemukan jejaknya yang belum sempat mereka hapus sebelum hari berganti"

"Apa maksudmu? Siapa mereka? Siapa yang membawa Emma"

"Maaf aku hanya bisa memberitahumu sebatas itu Mark" Dia berjalan dan menyeberangi jalan. "Mereka akan membantumu menemukan jawabannya"

"Hey bagaimana kau bisa tahu namaku? Apa yang harus aku lakukan" Aku berusaha mengejarnya,tapi jalanan terlanjur ramai dan pria itu sudah tidak terlihat lagi.

Aku berpikir keras, apa yang dimaksud dengan jejak? Jejak Emma?

Aku berjalan tanpa arah, prioritasku menyelamatkan Emma. Aku bisa kehilangan sahabatku ini kalau hari ini aku tidak berhasil menemukan jawaban pertanyaan ini. Aku melewati sebuah studio foto.

FOTO! Pasti yang dimaksud pria tadi adalah foto. Pikiranku mulai sedikit tercerahkan. Mungkin apabila aku menemukan foto Emma dan menunjukkan kepada keluarganya , dia akan selamat dan kembali ke dunia ini.

Astaga aku nyaris tak mempercayai semua ini. Terlalu berat untuk dicerna. Dunia paralel, sahabatku yang hilang bla bla bla. Konyol sekali. Mungkin kalau aku tidak bertemu pria tadi aku sudah masuk rumah sakit jiwa karena dianggap sinting oleh orang-orang yang sebelumnya mengenal Emma.

Aku segera berlari menuju rumah. Destinasi pertama yang ada di dalam pikiranku. Pasti aku bisa menemukan fotonya, aku juga bisa mencarinya di facebook dan twitter.

Aku sudah 2 jam di kamar, tidak menemukan foto Emma, bahkan fotoku saat bersamanya sudah tergantikan dengan fotoku sendirian. Aneh sekali. Ini sulit dipercaya. Facebook dan Twitternya? Sudah tidak ada lagi. Bahkan google tidak mampu menemukan namanya. Foto Emma di Facebook sudah tidak ada lagi. Gila..Ini gila.

Aku turun ke bawah mencari Mom. Dia sedang di dapur mengambil susu dari kulkas.

"Mom, apakah kau punya foto Emma?"

"Siapa Emma yang kamu maksud Mark? Temanmu? Aku belum pernah kenal dengan temanmu yang bernama Emma"

Aku lupa, cuma aku yang ingat Emma. Tampaknya aku harus mulai berhenti menanyakan Emma kepada semua orang.

"Lupakan saja Mom.. aku harus pergi sampai malam jadi makan malamlah duluan, tak perlu menungguku"

"Baiklah, kau baik-baik saja Mark? Mukamu pucat juga sekali.. Tampaknya ada sesuatu yang menganggu pikiranmu"

Mom memang perempuan yang peka. Terutama terhadap keadaanku.

"Yah, tenang Mom , aku baik-baik saja, hanya beberapa masalah pekerjaan"

"Kalau kau butuh teman bercerita aku selalu ada"

Aku tersenyum kembali ke kamarku. Pencarian terakhir sebelum aku ke destinasi kedua. Aku mencari lagi di kamarku selama dua puluh menit. Melihat sepatu lariku, dan membuatku teringat sesuatu. Sesuatu yang pernah Emma katakan.

"Aku tidak bisa membayangkan kalau aku dan kamu tidak pernah bertemu dan saling mengenal Mark"

Air mataku keluar tanpa kusadari. Emma sahabatku dari kecil, temanku menonton pertandingan Arsenal, temanku mengumpat dan minum-minum saat Arsenal kalah, penggemar buku Peter Ackroyd, dan seorang kakak.

Aku mengusap air mata, menuruni tangga dan keluar rumah tanpa sempat berpamitan dengan Mom. Destinasi keduaku adalah rumah Emma. Meskipun Mrs.Jacobsen sudah mengusirku, aku akan tetap kesana. Walaupun dengan cara yang sedikit lain.

Aku lewat pintu belakang. Setahuku ini pintu yang jarang sekali dikunci sebelum malam. Aku dan Emma selalu mengendap-endap lewat sini saat membolos sekolah dulu. Aku melihat sekitar memastikan Mrs. Jacobsen tidak ada di belakang. Frank dan Mr.Jacobsen sudah pasti tidak ada di rumah.

Aku berhasil masuk, tujuan pertamaku adalah kamar Emma yang kini kosong dan berdebu. Aku masih merasa tak percaya dulu pernah menghabiskan seminggu menginap disini sambil menonton film favorit kami dan membahas buku Peter Ackroyd. Aku mencari-cari dari sudut ke sudut. Hasilnya nihil. Emma seperti  tidak pernah tinggal di sini.

Aku menuju ke meja dimana keluarga Emma menaruh foto-foto keluarganya. Aku masih waspada, sepertinya Mrs. Jacobsen sedang tidur siang. Aku melihat dari satu foto ke foto lain. Tidak ada Emma. Aku membuka laci meja, aku menyortir setiap foto yang aku temukan. Masih saja hasilnya nihil. Sampai akhirnya kusadari ada seseorang di belakangku.

"Mark, apa yang kamu lakukan disini?"

Mati aku. Suara Mrs. Jacobsen.

"Maaf Mrs. Jacobsen, aku bisa jelaskan semuanya"

"KELUAR DARI RUMAHKU SEKARANG JUGA.. SINTING KAU MARK!"

Aku berlari ke pintu depan. Aku keluar dari rumah Emma sambil mengumpat. Tampaknya Mom akan segera mengetahui hal ini. Mungkin aku akan segera dibawa ke psikiater. Sialan.

Aku bingung harus kemana lagi tapi mendadak aku teringat Jess dan Alicia, teman-teman Emma. Aku menuju rumah Jess terlebih dahulu, berharap mereka ada di rumah.

Aku sampai di rumah Jess. Mengetuk pintunya.

Mrs. Sanderson membukakan pintuku.

"Maaf, bisakah aku bertemu Jess?"

"Kau Mark ya? ya ampun kau sudah terlihat besar sekali sejak terakhir aku bertemu denganmu.." Mrs. Sanderson justru membicarakan hal ini.

"Maaf, Jess ada?" aku tersenyum kecut.

"Maaf, Markku sayang, Jess sudah pindah dari rumah ini ke Tottenham, dia mendapat pekerjaan sebagai manajer hotel disana, apa kau ada keperluan dengannya? aku bisa memberimu nomor teleponnya"

"Umm.. terima kasih Mrs. Sanderson, jaga dirimu baik-baik"

"Kau juga Mark, kau terlihat pucat hari ini..apakah kau baik-baik saja?"

"Tidak pernah sebaik ini Mrs. Sanderson!" Aku menjawab sambil berlari, menuju rumah Alicia, 5 blok dari sini.

Hal yang sama aku temui juga di rumah Alicia. Dia sudah pindah ke kota lain. Tampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku dan lagi-lagi mereka bilang aku terlihat pucat.

Apa lagi yang harus aku lakukan?

Aku berhenti duduk di pinggir jalan mencoba mengingat-ingat dimana saja aku menaruh foto Emma. Sekelebat kemudian aku melihat seseorang yang aku kenali lewat di depanku.

"Coba cari di sekolah kalian dulu Mark" Oh ternyata pria tadi. Yang memberitahuku segalanya tentang hal yang menimpa Emma. "Maaf, Mark tapi ini petunjuk terakhir dariku"

Lalu dia berlari.

"Hey, hey, tunggu" aku berusaha mengejarnya, dia berbelok. Saat aku juga berbelok, dia sudah menghilang. Pria yang misterius. Kenapa dia membantuku? Apa dia ada hubungannya dengan penculik Emma?

Aku lalu mengganti arahku, menuju sekolah Emma. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tak terasa aku sudah selama ini bepergian. Badanku seolah menolak bergerak dan berlari-larian lagi, pikiranku masih berusaha mendorongnya bergerak. Aku lelah sekali tapi aku tidak mau kehilangan sahabatku.

Torriano Junior High School. Sekolah sudah tutup. Tapi selalu ada pintu rahasia bagi murid maupun mantan murid seperti kami.

Aku masuk melalui pintu rahasia siswa Torriano. Pintu berupa pagar kawat yang sudah berlubang besar namun tidak pernah diperbaiki sekolah ini. Entah sengaja atau menghemat dana. Dasar sekolah pelit.

Crank.. suara pintu aku buka. Sial, berisik sekali. Semoga sekuriti sekolah tidak mendengarnya. Aku menuju ruang birokrasi siswa. Tempat sekolah ini menyimpan semua data siswanya. Aku melihat sebuah meja arsip yang tidak terkunci. Tampaknya aku menemukan yang aku cari. Tetapi butuh kerja keras untuk menyortir ini.

Satu persatu aku pisahkan arsip-arsip siswa tersebut. Astaga sudah 10 tahun aku keluar dari sini pasti susah sekali mencarinya. Aku tidak sempat bernostalgia, fokusku hanya mencari foto Emma. Satu demi satu aku buka. Aduh sialan. Banyak sekali. Badanku lelah sekali. Aku bersandar sebentar ke dinding.


Aku tertidur.

"Damn!" Aku terbangun dan tersadar waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Gila, lama sekali tidurku.

Aku lanjutkan mencari foto Emma di bagian arsip siswa. Selama 1 jam penantianku sia-sia. Aku tidak menemukan apa yang aku cari. Aku semakin frustasi. Aku mengendap-endap beranjak keluar dari ruangan. Sepertinya aman, aku berjalan menuju pintu rahasia di luar. Tidak sengaja mataku tertuju pada sebuah novel yang ada di loket tata usaha.

"Raja Yang Pucat" sebuah novel karya David Wallace. Sebenarnya ini novel yang belum selesai, karena Wallace terlanjur bunuh diri menggantung dirinya. Tapi sahabatnya berusaha menerbitkannya tahun lalu. Tapi bukan itu yang membuat mataku tertuju. Emma sangat menyukai buku ini, begitu pula denganku. Kebetulan aku juga meminjamnya.

Pikiranku kembali ke beberapa jam yang lalu. Aku teringat ucapan dari beberapa orang kepadaku.

"Mark apa yang terjadi denganmu? Tampaknya kau sakit, wajahmu pucat sekali"

"Baiklah, kau baik-baik saja Mark? Mukamu pucat juga sekali.."

"Kau juga Mark, kau terlihat pucat hari ini..apakah kau baik-baik saja?"

Ibu Alicia juga berkata aku terlihat pucat.

Ya ampun, aku teringat sesuatu. Aku tersenyum dan berlari kencang. Tubuhku lebih bugar setelah tidur tadi. Aku pulang menuju rumah. Sesampai rumah aku menuju kamar. Waktu menunjukkan pukul 11 malam kurang Masih ada waktu 1 jam lebih sedikit.

Aku mengobrak-abrik kamarku. Berusaha mencari ke segala penjuru kamarku. Rak bukuku, bawah kasurku, meja kerjaku. Sialan aku tidak menemukan apa yang aku cari.

Sebuah bisikan dari memoriku

"Coba di tasmu Mark"

Aku menuju ke tasku yang aku bawa bekerja tadi. Gotcha! Aku membuka novel dan mencari pembatas bukunya.

AKU MENEMUKAN FOTO EMMA.


Novel "Raja Yang Pucat" yang aku lihat di sekolah tadi menyadarkanku. Kebiasaan Emma selalu menjadikan fotonya sebagai pembatas buku-bukunya. Dasar anak yang narsis. Kenapa hal sepenting ini bisa aku lupakan ya.


Dan aku tiba-tiba teringat ucapan pria lusuh tadi.

"Mereka akan membantumu menemukan jawabannya"  

Oh ternyata yang dimaksud adalah para Ibu-ibu yang aku temui hari ini. Mereka mengucapkan kata yang sama. Sialan apa jadinya kalau aku tidak melihat novel tadi.


Aku bergegas menuju rumah Emma, menuruni tangga kamarku dan keluar rumah. Sepertinya Mom dan Dad sudah tidur. Aku berlari sekuat tenaga, waktuku tinggal 10 menit lagi. Arghh.. Aku harus bisa membawa Emma kembali.

Akhirnya aku hampir sampai di depan rumah Emma, aku melirik jam tanganku, sial 3 menit lagi. Aku bertemu pria lusuh yang aku temui dua kali pagi ini.

"Semoga berhasil Mark" Dia masih saja menunduk, aku masih berlari menuju rumah Emma, persetan dengan ucapannya. Aku harus bisa menunjukkan foto ini kepada keluarga Emma.

Aku mengetuk keras pintu rumah Emma. Tidak ada jawaban dan pintu tidak dibukan. Waktu tinggal 1 menit. Argh!

Aku menuju pintu belakang, aku mencoba membuka pintunya. Dikunci! Sialan. Waktuku tinggal sebentar lagi.

Aku melihat jendela yang terbuka di rumah Emma. Tampaknya aku bisa masuk lewat sana. Aku berusaha sekuat tenaga memasuki rumah Emma. BERHASIL!

Aku ada di ruang makan Emma. Suasananya sepi sekali. Tidak ada orang. Aku menuju kamar orangtua Emma. Membuka pintunya dan menyadari tidak ada orang. AH SIAL. Aku tersadar sesuatu. Aku keluar rumahnya.

Mobil keluarga Jacobsen tidak ada. Mereka sedang pergi.

Waktu menunjukkan pukul 12.00. Aku terlambat. Emma tidak akan kembali.

Lututku lemas, aku tertunduk. Air mataku mengalir. Aku kehilangan sahabatku. Untuk Selamanya.

Air mata dan isak tangisku semakin menjadi-jadi mengingat hal-hal gila dan normal yang kami lakukan selama ini.

Kemudian sebuah suara mengagetkanku..

"Suprise Mark..Selamat Ulang Tahun"

Suara Emma?

Aku menoleh, di belakangku ada banyak teman-temanku dan Emma. Ada Alicia dan Jess juga. Hey? Apa maksudnya ini? Aku bertanya dalam hatiku.

"Emma, aku kira kau?" mataku masih sembab.

"Menghilang?" Emma terbahak-bahak diikuti tawa teman-temanku yang lain. "Maafkan aku Mark tapi ini lucu sekali... kau tahu aku butuh waktu sebulan mempersiapkan ini, menyiapkan foto tanpa diriku, menghapus foto2ku di social media dan tentu saja facebookmu dengan bantuan Graham, hacker handal ini, kemudian mengambil semua foto-fotoku di kamarmu, dan tentu saja menyisakan satu foto di novel Wallace, memberi instruksi kepada ibu-ibu cerdas yang kau temui hari ini dan tentu saja Ibumu sendiri ..yang berjasa membantuku..dan satu lagi.."

Seorang pria masuk. Pria berbaju lusuh itu.

"Hey, aku sudah boleh berganti baju?"

Pria lusuh yang aku lihat selama ini ternyata Frank. Adik Emma. Pantas saja dia selalu menundukkan kepalanya.

"Kau tahu Mark, bagian tersulit dari peran ini adalah berusaha menahan tawa melihat ekspresimu mempercayai ucapanku" Frank tertawa terbahak-bahak diikuti semua yang ada di ruangan ini.

Aku tidak bisa berkata-kata. Emma benar-benar jenius mempersiapkan semua ini.

Emma memelukku. Dia berbisik.

"Aku kira kau bisa lebih cepat dari ini Mark..aku sempat khawatir kau tidak bisa menyelesaikan teka teki ini .. Untung Frank sempat menaruh novel Wallace di sekolah sebelum kau pergi"

"Kau benar-benar kurang ajar Emma" Aku melepaskan pelukannya dan mencubit hidungnya.

"Kurang ajar!"

Jebakan Emma berhasil. Aku tidak kehilangan Emma. Aku dikerjai habis-habisan. Kami berpesta sampai pagi di rumah Emma. Hari yang cukup menegangkan. Aku terjebak di cerita fiksi buatan Emma.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku terbangun dari tidurku setelah sampai pagi berpesta di rumah Emma. Seseorang membuka kamarku. Mom ternyata.

Dia lalu memekik kaget.

"Siapa kau?"

"Mom,ini tidak lucu sama sekali"

Dia tertawa terbahak-bahak.

















4 comments:

  1. ini hebat..
    membuat merinding dan tertawa..
    terimakasih..

    anda telah membuat saya menikmati cerpen lagi tanpa harus menebak-nebak akhirnya..

    ReplyDelete
  2. Komen yang menyenangkan, terimakasih :)

    ReplyDelete