Diskusi Claudia


Malam ini aku merasa jengah. Pelarianku ya cuma satu tempat ini. Klub Malam. Aku menuju Foxtail, salah satu klub malam favorit pria separuh baya sepertiku. Namaku Jones. Aku tinggal di Los Angeles, tepatnya di 7th Street Apartement. Sudah dua tahun aku bekerja sebagai manajer restoran di Wokcano Restaurant and Lounge di Los Angeles. Aku berasal dari kota kecil di Florida. Aku merantau jauh sekali. Dari kota pesisir menuju kota keramaian.

Waktu menunjukkan jam 12 dan aku tidak ingin mengakhirinya di kasur, aku ingin menghabiskan beberapa Cocktail favoritku di Foxtail. Benedictne dengan Grape Fruit. Selain itu mungkin saja aku bisa berkenalan dengan beberapa gadis cantik.

Alasan yang membuatku jengah malam ini tidak lain adalah masalah asmara picisan. Aku baru saja dicampakkan oleh pacarku, Stefani. Pagi ini dia meninggalkan apartemenku dan barang-barangnya untuk tinggal dengan pria mapan yang bekerja sebagai konsultan keuangan di Deloitte. Tentu saja itu tidak sebanding dengan yang hanya manajer restoran. Entah kenapa Stefani tidak pernah menyukai pekerjaanku sejak aku mengatakan aku diterima di Wokcano. Sepertinya dia berharap lebih kepadaku. 

Gelas keduaku, aku mencoba melupakan Stefani. Mengamati sekitarku, beberapa wanita masih muda sedang tertawa, beberapa pria terlihat ingin menghampiri mereka. Duh wanita muda bukan tipeku. Stefani pacarku sebelumnya itu umurnya 5 tahun di atasku. Dia bekerja sebagai CPA Firm sebagai akuntan. Tampaknya kalian sudah tahu kenapa Stefani lebih memilih pria itu daripada aku. Duh aku jadi mengingat-ingatnya lagi.

Seorang wanita duduk disebelahku, di bar. Umurnya sepertinya 30 tahun. Tampak dewasa sekali. Ini tipeku, Aku mendadak melupakan Stefani. Aku mengajaknya berkenalan.

"Hai, sendirian?"

"Apakah kamu melihat pria selain dirimu ada di dekatku?"

"Oh" basa basiku salah langkah "Iya , aku melihat bartender itu, bisa saja itu kekasihmu"

Wanita itu tertawa lalu meminum minumannya. "Selera humormu bagus, tapi to the point saja, apa maksudmu mengajakku bicara?"

"Untuk pembicaraan di kasur mungkin?"



Aku dan dia sama-sama belum mengetahui namanya. Namun kami sudah terbaring berdua tanpa busana di kasur. Kami sedang berada di apartemenku. Wanita ini mendekat dan menyanggahkan kepalanya di dadaku.

"Hey, kamu cukup hebat, apakah kamu menyukai wanita yang lebih tua darimu?"

"Ya bisa kamu lihat sendiri, asalkan kamu tidak berusia 50 tahun, buatku itu masih wajar"

Dia tertawa. Kemudian tangannya meraba daguku.

"Siapa namamu?" aku bertanya. "Aku bahkan belum tahu namamu dan berakhir tidur bersamamu"

"Bagaimana kalau kita tidak perlu memberi tahu nama kita?.. Aku tidak berminat melanjutkan hubungan ini sampai sejauh itu. Mungkin kita hanya perlu menjadi teman diskusi di kasur empukmu ini" Wanita itu tersenyum, duduk memandangku. Lalu menciumku.

Aku menghentikan ciumannya. 

"Baiklah kalau itu maumu Claudia..aku memanggilmu Claudia"

"Baiklah.. Philip..nama panggilan yang baguskan?"

Kami bercumbu lagi.


Keesokan paginya aku terbangun sendirian. Tampaknya Claudia sudah pergi. Ah sial, aku lupa meminta nomornya. Bagaimana aku bisa menghubungi dia lagi? Aku benar-benar terhipnotis olehnya. Aku bangkit dari tidurku menuju kamar mandi. Tiba-tiba aku mendengar handphoneku bersuara. Aku bergegas mengambilnya.

"Hai.. ini nomorku, siapa tahu kamu butuh teman diskusi lagi.. Claudia

NB: Maaf aku tidak sempat berpamitan, tidurmu nyenyak sekali."

Aku tersenyum kecil. Aku tidak kehilangannya. Hari itu aku menemukan kehidupan baru. Aku bersemangat menuju restoran. Aku mencoba memperbaiki sikapku yang aneh ini, menyembunyikan kegiranganku. Bisa dikira gila aku di restoran nanti.

Stefani, aku sudah menemukan penggantimu.

Aku selesai bekerja. Badanku pegal sekali, aku ingin segera mandi air panas dan tidur. Aku mendadak ingat Claudia. Aku membuka handphoneku yang aku biarkan selama 5 jam tadi. Ada 1 pesan.

"Hai Jones, Ibu akan mendatangimu  bulan September depan.. aku ingin kau bertemu kakak kandungmu..kalian belum pernah bertemu"

Aku terhentak. Kenapa tiba-tiba begini. Dua bulan lagi aku akan bertemu dengan kakak kandungku yang belum pernah aku temui sebelumnya. Kenapa? Aku memang berasal dari keluarga broken home. Ayahku meninggalku dengan membawa kakak perempuanku ketika Ibuku dalam keadaan hamil 6 bulan. Ayahku membawanya sangat jauh, ke Phoenix. Sebuah daerah yang tidak pernah terjamah olehku sebelumnya. Entah bagaimana kondisi kakakku sekarang. Sejak lahir aku belum pernah bertemu keduanya. Ibuku tidak pernah mencoba menemui keduanya, sepertinya terjadi kesepakatan kalau Ibu dan Ayahku tidak boleh saling bertemu. Tapi sepertinya Ibu berubah pikiran, instingnya sebagai ibu membuatnya rindu dengan kakakku dan dia merasa sudah waktunya aku bertemu kakakku. Emily. Aku tidak tahu nama panjangnya. Aku juga tidak ingin bertanya kepada ibuku. Wajahnya? Aku tidak pernah melihatnya. Ibuku tidak pernah memajang fotonya di rumah. Sungguh aneh tapi aku sudah terbiasa.

 Aku membalas pesan dari Ibuku dengan singkat.

"Apakah kamu akan bersamanya dari Florida?"

1 menit kemudian ada balasan.

"Tidak, kami akan bertemu di Los Angeles.. kebetulan sekali kan?"

Aku tidak membalas smsnya. Aku terlalu lelah. Aku segera berjalan lagi menuju apartemenku. Tiba-tiba suara dering telepon mengagetkanku, 

"Ya ..Halo"

"Apakah kamu tidak membutuhkan teman diskusi malam ini, Philipku sayang?"

Astaga Claudia. Rasa lelahku mendadak hilang.

30 menit kemudian aku dan Claudia sudah terbaring sambil berdiskusi di atas kasur.

"Aku heran, kenapa kamu tiba-tiba menjadi seagresif ini" Aku bercanda dengannya.

"Aku juga heran, kenapa kamu tidak sehebat tadi malam" Dia membalas candaanku lebih tepat.

"Maaf aku lelah sekali sebenarnya..Apakah ini tandanya pertemuan kita sampai disini saja?"

"Ya ampun aku hanya bercanda Philip, kamu terlalu lelah tampaknya.. biarkan aku memijitmu"

Malam itu aku merasa bahagia sekali, dengan wanita asing yang namanya saja tidak aku ketahui.


Claudia tidak pergi dari apartemenku tadi malam. Aku terbangun lebih cepat darinya. Aku menuju kamar mandi lalu dapur. Mungkin beberapa potong toast dan kopi bisa membuatnya tersenyum pagi ini.


"Hai, apakah kamu akan terus tertidur dan membuatku bengong?" Aku berbisik di telinganya.

Claudia terbangun, lalu mengecupku.

"Aduh, sepertinya aku kalah pagi denganmu,..hmm aku mencium aroma toast yang dan kopi, apakah itu untukku?"

"Tentu saja tuan puteri" Sebuah bantal terlempar ke arah mukaku.

Pagi itu kami sarapan bersama. Sambil membicarakan beberapa hal tentang Los Angeles. Tentang beberapa perampokan di blok sepi LA, tentang restoran yang tutup bulan ini, dan macam-macam. Semua kami bicarakan kecuali diri kami sendiri.

"Hai, ceritakan tentang dirimu Claudia"

"Kita sudah berjanji kan Philip?" Matanya mengedip. Aku kalah.

"Baiklah, hari ini aku libur bagaimana denganmu? Ingin jalan-jalan denganku?"

"Elsyian Park sepertinya tempat yang bagus.. bawalah sedikit bekal"

Hari itu kami berpiknik. Banyak sekali topik yang bisa aku bicarakan dengan Claudia tanpa menyinggung tentang kehidupan pribadi kami. Taman hari ini cukup sepi. Sehingga kami bisa lebih leluasa. Bahkan Claudia  dengan berani menciumku sekaligus mencoba membuka bajuku. Sinting.

"Hey, jangan disini.. apakah kamu sudah gila?"

"Bercanda Philip, aku tidak segila itu..bagaimana kalau besok kamu mengajakku makan di restoran? aku penasaran dimana restoran terbaik disini"

"Oh ini sebuah tantangan? baiklah"

Claudia tidak tahu pengetahuanku tentang restoran sudah level advance.

Michael's Naples Ristorante menjadi tempat tujuanku. Sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Italia. Cukup sulit mendapatkan tempat di restoran ini. Untung aku punya kenalan di tempat ini. Jam 8 nanti kami akan menikmati makan malam yang mewah. Aku sepertinya harus berhemat sedikit setelah ini.


Ini pertama kalinya aku menjemput Claudia di apartemennya. Astaga Windsor Apartement? Mewah sekali apartemennya. Aku merasa minder mengajaknya ke apartemenku yang levelnya mungkin ada dua di dua tingkat dibawahnya. Aku menunggu di bawah. Claudia turun. Tampaknya dia mengerti apa yang ada dipikiranku.

"Jangan merasa minder Philip, ini apartemen temanku, aku hanya menumpang sementara"

"Ah, tidak aku tidak berpikir seperti itu.. berarti kamu tidak tinggal disini?"

"Ingat janji kita Philip?" Claudia mengedip ke arahku. Aku kalah lagi.

Kami sudah duduk di Michael's Naples. Claudia terlihat sangat cantik sekali. Make-upnya sederhana tapi sudah cukup membuatku terpesona.

"Umm..kamu sangat cantik malam ini"

"Tentu saja Philip, bagaimana aku bisa membuat pria muda-muda sepertimu tertarik kepadaku kalau aku tidak cantik" Claudia tertawa. Aku hanya tersenyum kecut.

"Sepertinya aku juga cukup membuat wanita berumur 30an sepertimu tertarik kepadaku" Aku membalasnya.

"Jangan bicarakan umur, aku tidak suka" Claudia menunjukkan raut muka kesal.

"Ah Maaf, aku hanya bercanda" Aku menyesal melempar bercandaan tadi.

"Aku hanya bercanda Philip..hahaha" Lagi-lagi Claudia mengerjaiku. Aku benar-benar banyak tertawa malam itu.

Anggur yang nikmat kami minum malam itu. Ah ini pasti dibeli di 55 Degree Wine. Aku tahu ini Taltarni Brut Tache. Wine dari daerah tenggara Australia. Selain itu suasana rooftop di Michael's Naples ini membuatku merasa dekat dengan Claudia. Aku tidak peduli aku tidak mengenalnya secara lengkap, yang penting kami saling mencintai. Aku menatap Claudia yang sedang menikmati Copper Salmonnya. Aku ingin sekali memeluknya. Tampaknya aku benar-benar jatuh cinta.

"Apakah aku boleh melanggar janji dengan mencintaimu, Claudia?" Aku bertanya kepadanya saat mengantarkannya pulang.

"Beri aku waktu untuk berpikir Philip.. bagaimana kalau mobil ini kamu arahkan ke apartemenmu, aku sedang ingin berdiskusi denganmu di kasur"

Kode diterima. Aku memutar balik menuju apartemenku. Aku masih penasaran dengan jawaban Claudia tadi. 

Aku terbangun dan menyadari Claudia tidak ada di kasurku. Aku melihat pesan di handphoneku. Dari Claudia.

"Philip, aku harus pergi selama dua bulan ini, jangan menghubungiku, biarkan aku yang menghubungimu.. jaga dirimu baik-baik"

Aku khawatir. Diskusi tadi malam sepertinya akan menjadi diskusi terakhirku dengan Claudia. Kerjaku hari ini sepertinya tidak akan maksimal. Aku tidak berhenti memikirkan kemungkinan yang terjadi denganku dan Claudia.

Dua bulan kemudian.

"Hai Jones,Besok aku akan datang dengan kakakmu, bagaimana kalau kita bertemu di restoranmu?"

Ibu mengirim pesan singkat di waktu yang tidak tepat. Aku membalas dengan singkat.

"Baiklah, jam 8 malam ya"


Sudah hampir dua bulan aku tidak bertemu Claudia dan menghubunginya. Aku ingin sekali menghubunginya tapi aku tidak mau dia marah. Aku benar-benar merindukannya. Secercah harapan muncul sekitar jam 12 malam aku menerima telepon dari Claudia. Aku sedang duduk di sebuah bar kecil.

"Hai Philip, ini aku, ada yang ingin aku bicarakan..kita bertemu di apartemenmu"

Claudia mematikan teleponnya.

"Nada bicaranya kelihatan serius, aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya selama dua bulan ini. Apakah dia ingin mengakhiri hubungan "iseng"nya denganku. Apakah sebenarnya Claudia sudah berkeluarga? Pikiran tidak bermutu menghiasiku. Sialan, kenapa aku jadi khawatir begini.

Aku menunggu di kamarku. Pintu diketuk. Itu pasti Claudia. Aku membuka pintunya.

Claudia ada dihadapanku dalam keadaan mata sembab. Sepertinya habis menangis. Kemudia dia memelukku dan menciumku. Kemudian berkata sesuatu.

"Berjanjilah, apapun yang aku katakan kepadamu, kamu tidak akan meninggalkanku?"

Ada apa dengannya? Aneh sekali.

"Baik Claudia, aku berjanji..kamu bisa memegang janjiku"

"Philip, atau siapapun namamu, sepertinya aku .. " Claudia terisak. "Sepertinya aku hamil"

Aku terhentak. Claudia hamil. Aku masih belum percaya.

"Apakah kamu yakin aku ayahnya?" Aku masih berusaha menyanggah. "Uhmm bisa sajaa..."

"Apakah kamu mengira aku wanita murahan yang tidur dengan semua pria? Aku hanya bersamamu selama tiga bulan terakhir ini..aku mencintaimu Philip, sangat mencintaimu..aku akui aku melanggar janjiku" Claudia terisak. Ini bukan Claudia yang suka bercanda.

Aku lega sekaligus panik. Claudia mencintaiku dan aku akan menjadi Ayah. Kombinasi yang tidak menarik.

"Baiklah, tenangkan dirimu, aku tidak akan meninggalkanmu, aku juga mencintaimu" Aku memeluknya mencoba meredakan tangisnya. Aku mencium keningnya, Menunjukkan janji aku tidak akan meninggalkannya.

"Philip, maafkan aku, ini bukan mauku juga, tapi aku tidak mungkin mengugurkan bayi ini"

"Aku juga tidak mungkin mengugurkannya, kita akan pelihara anak kita kelak..sudah waktunya juga untukmu memiliki anak juga kan?" aku sedikit bercanda membuat Claudia tersenyum.

"Ingat Philip, aku yang akan memberikan nama, bukan kamu.. Claudia bukan nama yang bagus"

Malam itu kami tertidur di sofa. Claudia dan aku sebentar lagi menjadi ayah dan ibu Yah beberapa bulan lagi. Mungkin sudah waktunya kami jujur mengenai kehidupan pribadi kami.

Aku terbangun dan menyadari Claudia sudah tidak ada lagi. Tapi aku bisa bernafas lega, Claudia meninggalkan sepucuk kertas di kulkas.

"Philip aku pergi mengambil barangku dan aku ada sedikit urusan malam ini, setelah semua selesai kita akan saling jujur menceritakan kehidupan pribadi kita.. aku penasaran dengan namamu, apakah kamu juga?

NB : Aku membawa kartu kunci cadangan"

Aku tersenyum. Apakah Cynthia? apakah Jessica? Yang jelas bukan Claudia. Aku tersenyum lagi. Malam ini rasa penasaranku akan terjawab.

"Jangan lupa jam 8 malam ya, Kakakmu sepertinya tidak sabar bertemu denganmu"

Hampir saja aku lupa janji dengan ibu dan kakakku. Aku langsung beranjak menyiapkan baju terbaikku untuk nanti malam untuk aku bawa ke kantor pagi ini. Hari ini aku juga akan bertemu kakakku untuk pertama kalinya. Kata ibu umurnya 5 tahun di atasku. Aku juga belum tahu namanya. Aku sengaja tidak bertanya.

Jam 8 tempat duduk sudah siap, untuk 3 orang. Aku juga sudah mengerjakan pekerjaanku hari ini dan meminta izin untuk acara ini. Aku siapkan wine terbaik di restoranku dan menu yang kira-kira cocok dengan mereka. Semoga kakakku tidak alergi seafood.

Ibu datang. Wajahnya masih terlihat cantik meskipun sudah cukup berumur. Kami berpelukan dan berciuman pipi. Aku akui aku sangat merindukan ibuku. Sudah 1 tahun aku tidak pulang ke Florida.

"Ibu merindukanmu, bagaimana kehidupanmu disini?"

"Baik sekali bu, aku mulai menabung untuk membeli rumah"

Aku tidak berani menceritakan soal Claudia dan kehamilannya. Terlalu riskan. Ada saatnya aku akan bercerita dan mengenalkannya kepada Claudia nanti.

"Ibu duduklah dulu, aku ke belakang dulu mengganti pakaianku, ngomong-ngomong aku kira kamu bersamanya?"

"Oh iya, tadi dia bilang akan sedikit telat, ada beberapa urusan"

Aku sudah selesai berpakaian. Aku kembali menuju restoran. Sepertinya kakakku sudah sampai. Dia duduk membelakangiku. Ibuku melihatku dan terlihat sumringah. Dia sudah tidak sabar mengenalkan kami berdua. Kakak dan adik yang belum pernah bertemu sebelumnya.

"Jones, ini kakakmu" Ibu sedikit berteriak. Aku belum sampai ke meja. Tampaknya dia benar-benar tak sabar lagi.

Perempuan yang aku sebut kakakku itu berbalik ke arahku dan....

"Jones, ini Emily, kakakmu"

Aku menutup mulutku, begitupun Emily kakak perempuanku itu yang sedikit terpekik.

"Hai Claudia" mulutku berbicara otomatis.








4 comments:

  1. Aku suka style nya... wawasanmu soal minuman enak bagus juga... :P Tapi entah bagaimana aku gak kaget kalo ternyata endingnya gitu. soalnya dari awal udah agak mencurigakan sih sampe gak boleh nyebut nama masing-masing. Coba kalo yang disembunyiin sedikit aja... background kenapa sampe gak bisa saling kenal antar sodara kandung mohon diperjelas eksposenya... Makasih ya, maaf aku bawel :"3

    ReplyDelete
  2. ah makasih ya sarannya.. bener juga..aku kurang mengekspose bagian itu..walaupun udah aku ekspose sedikit sih

    ReplyDelete
  3. entah kenapa langsung tertebak saat ibunya bilang mau dateng sama kakaknya yg selama ini belum pernah ditemui... :D bagus kok

    ReplyDelete
  4. yoi bener banget. di tengah2 cerita udah ketauan gimana endingnya.

    biar lebih sedikit suspense, mungkin bisa dibikin begini: si ibu mau ketemu jones. cuma mau ketemu aja tanpa mengenalkan siapapun. nah si ibu baru cerita kalo emily itu kakaknya jones pas udah ketemu dia di restoran. biar dramatis mgkin si emily dateng e telat atau lg ke kamar mandi

    *hanya masukan saja. biar endingnya "dapet"*

    ReplyDelete