Aku Yang Lain


Aku terbangun dari tidurku. Pukul 5 pagi. Sementara semua kelihatan berjalan normal. Aku lupa kejadian tadi malam. Sampai akhirnya aku melihat pakain wanita penuh darah dan sebilah pisau bersimbah darah juga di bawah kasur. Aku panik sekali. Apa yang terjadi? Aku langsung keluar dari rumah yang aku kontrak sendirian. Aku melihat cangkul dan tanah yang sepertinya baru saja digali dan ditutup lagi di halaman belakang rumah. Aku serentak menuju ke tanah galian itu dan mulai menggali dengan tangan.

Aku shock. Dalam beberapa galian aku langsung melihat sebuah tangan dengan cincin di jari manis terlihat. Sebuah tangan yang dingin, menandakan orang yang aku gali itu sudah dalam keadaan mati. Apa ini? Siapa yang membunuhnya? Aku benar-benar lupa kejadian semalam. Yang aku ingat aku terakhir berada di kampus dan menemui dosen pembimbingku. Aku mulai menggali lagi, dan melihat jam tangan di tangan ini. Aku terpekik kecil, jam tangan ini sepertinya aku ingat ini milik siapa. Aku ingat, wanita yang terkubur ini adalah Bu Febri, dosen pembimbingku. Serentak beberapa kepingan memori mulai kembali. Aku ingat aku sempat dibuatnya menunggu lama dan skripsiku dibuang olehnya ke lantai karena banyak kesalahan. 

Astaga? Apakah aku membunuhnya?

Aku bergegas menutup galian tadi dan membuatnya terlihat sewajar mungkin. Bisa gawat kalau Pak Ahmad pemilik kontrakanku melihatnya. Aku masih bingung apa yang terjadi dengan Bu Febri. Kenapa dia bisa terbunuh dan terkubur di halaman rumahku? Ah tidak mungkin aku membunuhnya. Aku tidak sekejam itu.

Hal pertama yang aku lakukan di kamar adalah membersihkan kamarku dari baju Bu Febri dan pisau bersimbah darah. Aku bungkus dan aku buang di tempat yang susah ditemukan. Aku menuju kampus. Berharap dugaanku salah. Aku tidak mampu menggali lebih jauh lagi, aku tidak mampu menghadapi kenyataan.

Sesampai di kampus aku menuju ke bagian pengajaran. Menanyakan keberadaan Bu Febri. Aku masih belum bisa menerima kenyataan.

"Maaf pak Bu Febri ada di kampus? ngajar?"

"Belum datang mas, saya juga bingung kok nggak pamit, ini padahal dari pagi tadi ada jadwal ngajar"

Aku mulai bisa menerima kenyataan. Bu Febri adalah mayat yang terkubur di belakang halamanku itu. Aku beranjak kembali ke rumah kontrakanku. Dalam perjalanan menuju parkir kendaraan aku bertemu Hendrik.
Hendrik kalau aku boleh bercerita sedikit adalah orang yang tidak ingin aku temui saat ini. Aku mempunyai beberapa masalah dengannya. Apalagi sejak dia mulai berpacaran dengan mantanku. Aku sendiri tidak masalah dia berpacaran dengan mantanku. Permasalahannya adalah dia selalu bernafsu membuatku cemburu dengan sindirannya setiap bertemu denganku.

"Hai, Arya... kenapa kamu sendirian saja?"

"Bukan urusanmu, aku harus segera pergi"

"Bro, kenapa kamu begitu ketus, aku kan hanya bertanya"

"Sekali lagi, aku sedang terburu-buru"

"Oke baiklah, mantanmu titip pesan untukmu.. katanya cepat-cepatlah cari penggantinya"

Aku tidak menanggapinya. Aku hanya menatap mata Hendrik dengan sinis. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Kenapa dia masih saja mengangguku? Persetan. Aku harus segera pulang.

Sesampai di kamar aku menemukan jawaban yang aku cari. Pertanyaanku adalah, apakah barang-barang Bu Febri selain baju ada di kamarku? Benar ternyata di lemariku ada tas wanita yang aku yakini milik Bu Febri. Aku mencari handphonenya. Astaga, 20 missed call, 13 sms, 10 bbm dari perempuan yang sepertinya adalah anaknya dan suaminya. Lututku lemas. Astaga sepertinya aku benar-benar membunuhnya. Pertanyaannya kenapa aku tak ingat sama sekali waktu aku membunuhnya?

Seharian aku hanya terduduk lesu di kamar. Aku bingung harus bagaimana. Apakah aku harus menyerahkan diri ke polisi? Tapi masa depanku masih panjang, aku sudah punya berbagai macam rencana untuk masa depanku. Apakah aku harus menghentikan mimpiku dan terpuruk di penjara menunggu keputusan hukumanku? Aku tidak tahu harus bagaimana. Semua pilihan yang harus aku pilih membuatku bingung. Aku tidak mungkin bertahan beberapa tahun ke depan dengan kenyataan yang aku sembunyikan bahwa aku pernah membunuh orang.

Pintu kamarku diketok. Aku kaget sekali. Ternyata Pak Ahmad, pemilik kontrakan yang rumahnya berada di seberang kontrakanku.

"Mas Arya, saya mau tanya tadi malam Ibunya ke kontrakan ya sekitar jam 7 malam?"

Astaga, kepingan memori baru muncul di kepalaku. Ternyata aku sendiri yang membawa Bu Febri ke kontrakanku.

"EE...oh Ibu saya ya? Iya pak, kemarin kebetulan sedang mampir, tadi pagi sudah pergi kok pak"

"Oh yasuda kalau begitu, saya kemarin juga cuma dikasih tahu si Surti, kalau dia lihat mas Arya sama wanita separuh baya ke kontrakan"

Selamat, batinku. Pak Ahmad percaya dengan kebohonganku. Aku tambah yakin aku yang membunuh Bu Febri. Kenapa aku melakukannya? masa hanya gara-gara skripsiku dibuang di lantai? Selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Bu Febri memang dosen yang keras, tapi dia benar-benar baik dalam membimbingku.

Pak Ahmad ternyata masih di depanku. Aku terlalu asyik melamun.

"Mas, saya lupa kasih tahu kemarin ada temannya mampir kesini sebelum mas Arya pulang, menanyakan mas Arya"

"Siapa pak?"

"Saya nggak tahu namanya pak, orangnya putih,tinggi, rambutnya pendek, kemarin saya tanyain ada pesen buat mas, dia jawab nggak ada"

Hendrik? Setahuku orang yang aku kenal dan memiliki penampilan seperti itu hanya Hendrik. Ada apa gerangan dia menuju rumahku? Aku harus mencari tahu. Segera aku mencari nomor Yeni, mantanku yang sekarang menjadi pacar Hendrik. Aku meneleponnya.

"Hai Yeni, ini aku Arya"

"Arya? ada apa?" suaranya sedikit kaget mendengar suaraku, Tentu aku tidak perlu menyebutkan namaku dia sudah tahu. 

"Aku cuma mau bertanya dimana kos Hendrik, aku ada sedikit urusan dengannya" Aku mencoba berbicara setenang mungkin, menghindari kecurigaan Yeni.

Berhasil, Yeni tidak curiga. Aku mendapatkan alamat kos Hendrik. Malam itu jam 7, aku mencari sebuah jawaban.

Aku terbangun dari tidurku. Pukul 5 pagi. Aku tiba-tiba mengalami dejavu. Ini mirip dengan kejadian kemarin. Aku yang terbangun tanpa mengetahui kapan aku tidur dan kejadian apa yang aku lakukan tadi malam. AKU TERPEKIK, tanganku berlumuran darah yang sudah kering. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku membunuh lagi?

Aku segera berlari menuju halaman belakang. Seperti kemarin, ada sebuah cangkul dan tanah bekas digali lalu ditutup. Sepertinya aku sebuah kuburan lagi. Tapi siapa?

Aku teringat sesuatu. Terakhir sekitar jam 7 malam aku hendak menuju kos Hendrik. Tapi ingatanku serasa hilang setelah itu. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Apakah ini Hendrik yang ada di tanah galian ini? Kuburan ini?

Berbeda dengan kemarin, aku tidak berusaha menggali. Entah kenapa, aku tidak ingin tahu. Aku hanya menutupi tanah galian itu sehingga terlihat sewajar mungkin. Aku bergegas menuju kamar kos. Hal yang aku tuju adalah handphoneku.

3 missed call, 4 sms, 2 bbm

Ada dua BBM dari Yeni

"Arya, Hendrik denganmu?"

"PING"

3 missed call dari Yeni,

4 sms, dua dari operator telepon sinting, 2 dari Yeni juga.

"Hendrik lagi pergi sama kamu?"

"Arya, jawab teleponku"

Aku membalas BBM Yeni dengan singkat.

"Tidak, aku tidak jadi ke kosnya tadi malam"

SMS , BBM dan missed call dari Yeni semakin menguatkan kalau mayat yang terkubur di halaman belakang tadi adalah Hendrik. Aku baru menyadari tanganku belum aku cuci. HPku kotor oleh darah kering. Saat aku menuju kamar mandi aku melihat sesuatu yang bukan milikku. Sebuah HP!

Setelah membasuh tangan dan muka, aku menuju ke HP tadi. 20 missed call, 10 BBM. Aku buka, semua dari Yeni. Aku membuka folder gallery HP, dan menemuka foto Yeni dan Hendrik. INI HP HENDRIK!

Astaga, aku membunuh Hendrik! Aku tidak perlu menggali kuburan di belakang sana untuk memastikan Hendrik adalah korban terbaruku. Aku yakin sekali. Pola Hendrik sama dengan pola membunuh Bu Febri. Aku merasa ada sesuatu yang menguasai diriku. Aku bingung. Aku tidak mampu hidup seperti ini. Terbangun dalam keadaan penuh darah dan membunuh orang. Aku tidak kuat lagi. Aku ingin segera menghukum diriku sendiri.


Jam 5 sore, dan aku masih terduduk lemas, mengambil keputusan. Apakah aku harus mengakhiri hidupku? Bagaimana kalau bukan aku yang membunuh Bu Febri dan Hendrik? Tapi bagian besar lain dari diriku meyakini aku yang membunuhnya. Aku pasti memiliki kepribadian ganda. Pasti aku yang membunuhnya.

Keputusanku sudah bulat, aku akan mengakhiri hidupku. Aku mengambil pisau yang aku yakini kugunakan untuk membunuh. Tapi nyaliku terlalu ciut. Aku akhirnya mencari cairan pel untuk kutenggak. Sepertinya akan berhasil.

Aku menenggaknya. 

Tidak ada efek apa-apa. Mungkin beberapa jam lagi. Akan kugunakan waktu yang tersisa ini untuk menulis surat terakhir, aku akan mengakui semuanya. Kuhidupkan laptopku, kutancapkan chargenya agar bisa hidup terus. Aku mulai menulis, 15 menit kemudian efek dari obat pel yang aku minum mulai terasa. Aku berusaha bertahan sampai tulisanku selesai. Perutku sakit sekali, nafasku mulai sesak. Paru-paruku seperti akan meletus. Aku sempat melihat sebuah folder yang asing di desktop. Aku tidak pernah menaruh folder ini. Aku membukanya. Ada dua file film di dalamnya. Aku membukanya salah satu.

Sebuah rekaman yang berasal dari webcam laptopku, disitu aku melihat Bu Febri, tapi aku tidak melihat diriku. Yang aku lihat adalah Yeni! Kenapa Yeni ada disitu?

Nafasku mulai sesak lagi, aku mencoba bertahan demi menjawab rasa penasaran. 5 menit kemudian aku melihat Yeni mulai brutal, menusuk-nusuk tubuh Bu Febri, mengeluarkan isi perutnya. Bu Febri hanya bisa berteriak. Siksaan yang sangat kejam. Yeni hanya tertawa. Kemudian dia mendekati webcam. Dugaanku dia sengaja merekamnya. Sementara aku mulai merasa waktuku tidak lama lagi.

"Arya sayang, kamu puas kan? Ini dosen yang membuatmu lama lulus.. membuang skripsimu ke lantai.. dosen bajingan ini akan aku bunuh demi kamu sayang... aku sayang kamu, masih sangat sayang kamu"

Aku tersedak, batukku mengeluarkan darah. Aku kaget sekaligus merasa damai. Ternyata aku bukan pembunuh. Tanpa perlu membuka file 1 lagi aku sudah tahu, itu adalah pembunuhan Hendrik yang pasti dilakukan Yeni juga.. Aku mulai kehilangan kesadaran, semua mulai kabur. Aku mati bukan sebagai pembunuh. Aku lega.lega sekali. Terimakasih Tuhan.....aku mendengar suara pintu diketuk...tapi terlambat, aku sudah mati.





Aku terbangun. Sepertinya aku di rumah sakit. Aku belum mati. Pandanganku masih kabur. Lalu aku mulai menggerakkan tangan. Susah sekali tapi aku bisa. Aku mulai mengumam. Tiba-tiba ada seseorang mendekatiku. Wanita dengan kacamata. Itu Yeni!

Yeni kelihatan tersenyum memandangku. Pandanganku masih kabur. Apakah dia akan membunuhku juga?

Tiba-tiba aku mendengar membisikkan sesuatu padaku.

"Terimakasih sayang kamu sudah membunuh Hendrik untukku.. aku sayang kamu"

Kemudian dia menciumku dengan penuh cinta. Kami ternyata pasangan pembunuh.

3 comments:

  1. wow! critanya bagus bgt. Imaginasimu keren..
    Bisa dijadiin novel kriminal nih ^^

    ReplyDelete