Lombok, Antara Sampah dan Pantai



                Dua bulan yang lalu saya mendapat kabar yang menggembirakan dari Ibu. Tante saya, Tante Vippi dan om Frank saya mengajak saya ke Lombok bulan Juli nanti! Yipi. Akhirnya kesampaian juga pergi ke Lombok setelah tahun lalu saya dan teman-teman Klastic mengalami gangguan “ehem” biaya waktu hendak menyebrang dari Padang Bai. 600ribu untuk sekali nyebrang and that’s too much. Setelah booking tiket dan booking penginapan di Sengigi dan Gili Trawangan akhirnya saya dapat jadwal fix juga. Tanggal 12 Juli sampai 15 Juli saya akan bermanja-manja ria di Lombok. Tentunya dengan bimbingan orang tua.

                12 Juli 2012 

                Jam  5 saya sudah sampai di Bandara Adi Sucipto, kebetulan Ibu saya termasuk orang yang perfeksionis dan tentu saja tepat waktu. Filosofinya adalah “Lebih baik kepagian daripada kesiangan”.  Tidak perlu waktu lama menunggu di waiting room sampai akhirnya pesawat kami sudah siap berangkat. Pesawat yang beruntung saya naiki (apaan dah) adalah Wings Air. Pesawat yang ini beda dengan pesawat yang saya naiki sebelumnya, setiap sisi kanan dan kiri kabin cuma ada dua kursi, lebih kecil. Sialnya kami harus transit dulu di Surabaya selama dua jam. Sementara perut saya mulai minta diisi. Sabar ya nak.
                Pesawat mendarat dengan tidak mulus di Juanda. Ini pertama kalinya saya menginjak bandara Juanda. Sebelumnya waktu masih punya pacar di Surabaya saya lebih suka naik kereta kesini dan ini kenapa malah jadi curhat ya? Oh iya akhirnya sambil menunggu dua jam yang ternyata bertambah jadi 3 jam karena pesawat delay saya makan Rawon di LA cafe. Sebenernya saya kurang ikhlas makan di Bandara. Mahalnya nggak karuan cynn.
                Setelah mendengar lelucon Om Frank tentang pesawat delay yang  notabenenya adalah seorang yang tidak menyukai sesuatu yang tidak tepat waktu akhirnya kode penerbangan kami dipanggil juga. Fuih, padahal sebelum berangkat tadi saya sudah memuji maskapai ini tapi akhirnya malah jadi ngaret gini. Penerbangan KKS nih, Kapan Kapan Sampai.
                LOMBOK!!! Pesawat akhirnya mendarat di bandara internasional Lombok. Bandara yang bertolak belakang sekali dengan bandara Juanda. Sepi. Kami sempat keteteran mencari koper kami yang nggak muncul-muncul sampai akhinya saya sadar koper saya ternyata sudah berjejer rapi di kantor bandara. Pfft sialan. Akhirnya sampai luar Bandara kami dijemput oleh keluarga Tante Frida, temen Ibu dan Tante Vippi waktu SMA.  Yihaa saya sudah siap-siap menjelajahi  pulau lombok. Pulau yang konon disebut pulau 1000 masjid.
                Destinasi pertama kami adalah Pantai Aan. Sebagai orang dewasa yang paling muda dan masih dalam bimbingan orang tua tentu saja saya cuma bisa ikut aja. Walaupun sebenernya saya lebih ingin ke pantai Kuta. Perjalanan menuju pantai Aan ditempuh sekitar 1,5 jam dari bandara. Jalanannya pun ya ampun kayak Ampyang. Jelek banget. Apalagi waktu itu Om Joko, suami Tante Frida yang pegang kemudi setir sempat salah jalan masuk jalan yang belum di aspal dan parahnya minta ampun. Ampun pusing banget.
                Akhirnya kami sampai di Pantai Aan. Astaga kotor sekali daerah di sini. Pantai di sini juga benar-benar nggak karuan sampahnya. Saya sama sekali tidak menemukan tempat sampah. Bahkan tempat sampah dari bambu yang tradisional pun tidak ada. Berlawanan sekali kebersihan di sini dengan keindahan pantainya. Saya lumayan shock. Satu hal yang saya tidak suka adalah anjing disini banyak banget. Padahal saya sangat takut dengan anjing karena waktu kecil saya sering sekali dikejar anjing dan nyaris digigit anjing di bagian selangkangan. Err..
                Pas sekali, keluarga Tante Frida ternyata doyan sekali makan. Dan saya langsung berkesempatan mencicipi pecel mataram yang bisa ditambahkan sambel plecing yang enaknya nggak karuan. Pecel Mataram ini menggunakan kangkung sebagai pengganti bayamnya. Sayang sekali kami harus makan berdampingan dengan anjing-anjing yang doyan banget deket-deket untuk minta makan dan tumpukan sampah yang banyak sekali err. Bisa dibayangkan Om Frank pasti udah pengen ngomong macem-macem namun sayang sebelum berangkat dia sudah disumpah oleh Tante Vippi untuk nggak komen apapun kondisinya.
                Setelah menghabiskan pecel Mataram dan pisang ketip yang menurut saya rasanya malah seperti ketela rebus saya putuskan untuk berjalan ke tepi pantai yang tidak terlalu ramai. Masih tersimpan sedikit kekecewaan waktu saya kesana karena sampah-sampah yang saya temuin di depan pintu masuk. Sebelnya lagi penjual disana kolotnya minta ampun, menawarkan dagangan dengan sangat memaksa dan pantang menyerah. Duh, kok first impression saya nggak banget gini ya. Baru setengah hari di Lombok nih.
                Pantai Aan sebenernya bisa menjadi pantai yang keren kalau pemerintah daerah bisa mengelola dengan baik. Namun setelah ngobrol sebentar dengan Om Joko saya diberitahu bahwa sebenarnya sudah ada itikad baik dari pemerintah untuk mengelola pantai ini namun sayangnya penduduk asli di sini masih belum siap secara “mental” untuk mengelola pantai ini. Kelihatan dari toilet dan mushola yang sudah dibangun pemerintahpun juga dalam kondisi kurang baik. Duh, sayang sekali ya.
                Terlepas dari itu saya masih berusaha menikmati Pantai Aan. Warna airnya hijau tosca dan pasirnya unik. Pasir di sini biasa disebut dengan Pasir Marica (merica). Bahkan saya juga minta anak Sasak (penduduk asli lombok) untuk mengambil saya sebotol pasir Marica dengan upah 1000. Akhirnya setelah 2 jam di pantai kami memutuskan untuk menuju Hotel The Santosa di Sengigi tempat kami menginap.
                Akhirnya kami sampai juga di Hotel The Santosa. Kabarnya Sultan HB X ternyata punya saham di hotel ini. Hotel ini layaknya hotel-hotel lain di Sengigi juga “punya” pantai sendiri.Duh saya sudah bisa membayangkan menunggu sunset di sini besok malam sambil baca buku.  Malam ini rencana awal saya adalah makan Ayam Taliwang. Untungnya Om Joko adalah orang yang tidak asal merekomendasikan tempat makan, jadilah kami makan di restoran Taliwang Raya, milik anak H.Ach. Moerad, perintis restoran Taliwang disini. Lucunya lagi saya baru tahu kalau Ayam Taliwang ternyata berasal dari Sumbawa barat. Justru di daerah Taliwang itu  jarang yang jual Ayam Taliwang. Ayam Taliwang ini beda dengn ayam kampung di Jawa. Ayamnya kecil-kecil namun dagingnya padat dan seratnya liat. Sambalnya juga hebring banget. Plecing Kangkungnya selain diberi kangkung dan sambal plecing juga diberi kacang goreng, parutan kelapa dan toge rebus  Saya memesan Ayam Bakar Plecingan dan Nila Sambel Mangga. Yummy. Memang benar, dimana-mana lebih enak nyicipin langsung makanan di tempat asalnya. You can create the food, but you can’t create the atmosphere. Saya mulai susah jalan setelah makan hari itu. Perjalanan saya hari ini ditutup dengan makan malam mengenyangkan.

                13 Juli 2012

                Argh,susah sekali beranjak dari tempat tidur. Tapi saya tidak mau menyia-nyiakan waktu di lombok cuma dengan tidur-tiduran seperti ini. Setelah sarapan di hotel yang buanyak sekali pilihan menu breakfastnya saya pun menuju pantai untuk menikmati pantai Sengigi di belakang hotel. Sampai jam 11, kami beranjak melanjutkan perjalanan ke toko sekaligus tempat kerajinan kain tenun sasak atau biasa disebut kain songket lombok di daerah Cakranegara. Setelah saya tanya-tanya ternyata dulu di sepanjang jalan ini banyak sekali perajin kain songket namun sayang sekali satu demi satu berguguran karena modal yang kurang dan minimnya support pemerintah daerah. Alhasil toko kerajinan milik Bu Agnes ini jadi satu-satunya yang tersisa di Cakranegara ini.
                Awalnya saya kaget waktu bertanya harga baju di toko ini. 300 ribu paling murah? astaga. Bu Agnes yang melihat respon kaget saya cuma tersenyum sambil mengajak saya menuju pabrik di samping toko. “Silahkan lihat pembuatannya mas, pasti anda akan mengerti kenapa saya beri harga segitu”. Benar saja, saya akhirnya melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa susahnya membuat kain tenun lombok. Saya tambah kaget waktu Bu Agnes bilang ada 15 proses sebelum kan tenun jadi. Proses yang ribet yang membutuhkan dukungan cuaca dan ketelatenan tentu saja membutuhkan karyawan yang berdedikasi (halah bahasanya). Bu Agnes juga sempat mengeluh susahnya mencari karyawan. Dari jumlah semula waktu pabrik dibuka, karyawan hanya tersisa 10% !!. Generasi mudapun tidak menunjukkan minatnya dengan pekerjaan ini.  Sekarangpun saya sama sekali nggak heran harga 300ribu tadi sangat berbanding lurus dengan ribetnya proses tadi. Pukul 2 kami beranjak dari toko tadi dengan membeli beberapa kain songket yang motifnya menurut saya indah sekali.
                Perjalanan berlanjut ke Suronadi, tujuannya tentu saya hehe.. mengisi perut lagi. Saya sudah kelaparan sekali.  Seperti yang saya bilang tadi, selama perjalanan saya cuma bisa geleng-geleng lihat tumpukan sampah yang kurang dikelola, duh saya cuma bisa ngomong sama berusaha tidak membuang sampah sembarangan selama di sini. Sampai akhirnya di RM. Suronadi saya sudah nggak sabar lagi ingin segera makan. Pesanan saya Ikan Bakar Plecing, Kangkung Plecing, Beberuk dan yang menurut saya laziz sekali, Plecing Kangkung Pakis dan Ayam Pelalah. Sepertinya saya tidak akan makan lagi malam ini. Duh kenyang.
                Jam setengah 5 akhirnya kami sudah sampai di hotel. Tujuan saya cuma satu melihat sunset pertama saya di Lombok.  Jam 5 saya sudah bersiap di pinggir pantai. Tidak lama kemudian matahari yang akan terbenam mulai nampak.  Indah sekali. Ini mungkin salah satu kepuasan yang tidak bisa dibeli ya? Perjalanan hari ini saya kira akan berakhir sampai akhirnya saya diajak makan. (lagi)
                Malamnya kami mencoba restoran seafood di daerah Sengigi. Sialnya sepertinya restoran yang kami datangi sudah memenuhi target pengunjung, jadi pelayanannya pun sudah seenaknya sendiri. Saya sampai capek ngobrol menunggu makanan yang tidak kunjung datang. Serbet, tisu dan sendokpun tidak disediakan. Untung Om Frank tidak ikut kami, saya akui wisata makan saya malam ini adalah yang terburuk di Lombok. Walaupun saya suka makanannya namun pelayanan yang buruk membuat saya setengah hati mencicipi makanan. Clam yang saya pesan cukup enak sih, Oh iya lombok juga terkenal sebagai penghasil mutiara lho!! . Setelah selesai makan malam perjalanan saya akhiri dengan makan jagung bakar di jalan sambil memandangi pantai Sengigi dari jalanan atas. Dingin sekali brr.

                14 Juli 2012

                Destinasi kami selanjutnya adalah Gili Trawangan. Sebuah pulau kecil yang ada di utara Lombok. Disana sama sekali tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor. Wah tempat favorit saya itu. Minim polusi dan tentu saja maximal bule-bule cantik dan sexy hahaha. Jam 1kami sampai di Dermaga Bangsal daerah dusun pemenang. Tiket menyebrang sebenarnya cuma 10ribu namun karena kami sudah terburu-buru akhirnya kami putuskan menyewa kapal seharga 185 ribu. Perjalanan menuju Lombok dengan kapal sangat menyejukkan. Bau angin laut, deburan air yang terkadang mengenai aya, serta deburan ombak yang membuat kapal goyang tidak bisa saya gambarkan. Saya benar-benar menikmati semua itu. Namun semua harus ternoda dengan beberapa kesialan tidak penting. Kapal yang seharusnya berhenti di dermaga malah berhenti di tempat yang jauh sekali dari hotel dan dermaga. Duh sialan sekali bapak ini. Cari enaknya saja.
                Akhirnya kami harus menunggu Cidomo dari hotel. Sekitar 1 jam kami seperti orang nyasar. Walaupun gitu saya masih terhibur melihat banyak sekali bule bule bertebaran bahkan saya sempat berpikir jangan-jangan populasi bule di sini lebih banyak daripada orang Indonesia ya?. Akhirnya Cidomo datang dan mengantarkan kami menuju hotel. Kesialan kami bertambah, ketika menanyakan tarif Cidomo, 70 ribu!! Duh untung saja perjalanan ini di sponsori oleh orang tua alias dalam bimbingan orang tua. Kalau saya cuma sendiri atau sama temen-temen saya lebih memilih jalan kaki saja.
                Kami menginap di hotel Black PennyVillas. Kelihatan kecil dari depan tapi setelah saya masuk ternyata konsep hotel di sini adalah Villa. Jadi di dalam ada semacam komplek kecil yang punya rumah kecil dilengkapi kolam kecil di dalamnya. Asyik sekali!. Soal harga hmm. Saya nggak berani nanya, pasti mahal.
                Kami akhirnya makan siang di restoran hotel yang pas sekali ada di pinggir pantai. Makanannya pilihannya banyak sekali dan yang jelas muahaalll sekali. Duh kalau ditotal semua pengeluaran makan tadi mungkin udah bisa saya pakai tinggal di Lombok secara “ngere” seminggu mungkin. Sekali lagi saya beruntung perjalanan saya bersponsor haha. Makan siang telat kami akhiri segera dan dilanjutkan dengan berjalan-jalan di daerah pinggir pantai Gili Trawangan sambil mengantar Tante Frida dan keluarganya ke dermaga untuk kembali ke Lombok.
                Malamnya kami jalan-jalan. Sembari mencari tempat makan yang cocok. Bintang-bintang di langit buanyak sekali. Berbeda jauh dengan yang saya lihat di Jogja. Bahkan “milky way” juga terlihat dengan jelas di langit. Alternatif transportasi di sini selain menggunakan cidomo adalah dengan menggunakan sepeda. Namun karena pada dasarnya saya suka jalan, kami memilih berjalan kaki saya menyusuri pulau. Asyiknya lagi kami makan di restoran (yang lagi-lagi) butuh bimbingan orang tua dan dapat tempat di pinggir pantai. Angin semilir bertiup menyejukkan suasana makan. Saya pesan Swordfish Steak dan Seafood Kebab. Wuah malam itu saya kenyang sekali. Ini adalah makan malam terenak dari 3 hari sebelumnya.
                Pagi harinya saya tidak sempat melihat sunrise, hiks. Tiba-tiba saya terbangun dengan rasa meriang dan tenggorokan yang sakit minta ampun. Bendera putih berkibar dan yah saya harus melewatkan sunrise daripada merepotkan. Akhirnya cuma Tante Vippi dan Ibu saya yang berkesempatan menikmati sunrise. Sementara saya harus terbaring meriang di atas kasur.
                Jam 11 siang kami menuju dermaga untuk kembali ke Lombok. Badan sudah agak enakan namun masih menyisakan sedikit penyesalan karena tidak bisa kembali menikmati sunrise pagi tadi. Saya jadi pasang target setelah skripsi selesai untuk kembali kesini lagi. Selain itu Gili Trawangan bukan jadi destinasi saya satu-satunya. Gili Meno dan Gili Air harus saya kunjungi juga. Tentu saja saya lebih menyukai liburan “ngere” bersama teman-teman saya. Menabung dari sekarang dan selesaikan skripsi sekarang juga. Lombok i’ll be back soon!
                

 Bandara Internasional Lombok, sepi cynn

 Pisang Ketip Rebus, rasanya malah kayak ketela

 Bayangkan kami makan pecel di Pantai Aan dikelilingi puluhan anjing sejenis ini

 Pecel Mataram plus sambel plecing.. sadap

 Masih sedikit yang sadar lingkungan

 Pantai Aan daerah bukit

 Pasir Marica ... o oi
 Penjual yang setia "ngelendotin" om Frank dari kami datang sampai pulang. Gigih sekaligus annoying
 
 Wuahh

Kalau ombak sedang surut kita bisa duduk di karang 

 Pantai Aan dilihat dari perbukitan



 Tante Frida sekeluarga dan kami

 Welcome Drink dari Hotel The Santosa, (nggak penting)

Aya, Taliwang, nom nom nom

 Sisa sisa kekejaman

 Muka muka kekenyangan, Om Frank sedikit bete karena tidak ada menu yg cocok hehe



 Kapal kapal di pantai Sengigi yang ada di Hotel The Santosa

 Kapalnya Agung Hercules .. TBBM. Tidak Berlayar Barbel Melayang

 Tempat Leyeh-leyeh

 Bandara lama sebelum dipindah ke bandara internasional

 Songket sebelum ditenun

 Proses Penenunan








 Jejeran kain songket siap jual

 Ikan Bakar Plecing

 Plecing Kangkung


 Beberuk dari terong yang dirajang

 Plecing Pakis.. amboi enaknya

 Ayam Pelalah

 Jeruk Nipis Pepaya


 Monyet-monyet lucu yang harus hidup di hutan penuh sampah :(



 Percaya atau tidak saya tidak menemukan tempat sampah di sini

 Jauh-jauh ke lombok belinya serabi.. hadeh

 Sunset Sengigi




 Ini warung seafood yang saya ceritakan tadi, pengalaman wisata kuliner terburuk

 Clamnya lumayan enak hehe





 haduh warnanya










 Naik Cidomo ke Dermaga Bangsal


 Dermaga Bangsal


 Kapal menuju Gili Tarawangan


 Wah pulau Gili Trawangan



 Hotel tempat saya mengginap

 Kayak komplek perumahan kan?

 Kolam Renang pribadi.. uhuy!!

 Cidomo disini seenaknya kasih harga, watch out!






 Lemonana.. ENAK BANGET SUMPAH..

 Semua kebutuhan di Gili Trawangan mulai dari air bersih, sayuran dan bahan-bahan makanan disetor langsung lewat jalur air dari Lombok. Cuci sprei saja harus nyebrang.

 Pasta Aglio!


 Om Frank seneng banget akhirnya nemu makanan yang cocok



 Duh ngingetin kucing di rumah


 Karyawan hotel yang pulang



 Ya semoga bisa terjaga kebersihannya







 Kunci saya patah, sial
 Jalanan gelap di Gili Trawangan, cuma ada lentera ini

 Ikan Kakap Merah super guede

 Lobster

 Swordfish Steak

 Seafood Kebab

 Prawn

 Vegetable Kebab


 menjelang sunrise







 Nampang dulu

 Sarapan terakhir di Gili Trawangan





 Pantes dari kemarin nggak nemu susu berjemur kayak di Bali :(


 Kecipratan air waktu naik kapal berkali-kali


 Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air dari udara

 Well bawaan saya dan ibu beranak pinak gara-gara oleh oleh dari Tante Frida





               

No comments:

Post a Comment