Dieng: Kota Kulkas


Seminggu sebelum berangkat ke Lombok, saya ngobrol sama Kang Gusti lewat  BBM. Saya iseng ngajakin pergi ke Dieng. Kemudian saya coba ajak temen-temen yang lain Abah, Ocha dan Mbak Orin. Alhasil sudah 5 orang termasuk saya yang sudah bersiap berangkat ke Dieng tanggal 16 Juli. Sintingnya saya baru balik dari Lombok hari Minggu malam. But the show must go on,  Hajar gan!. Akhirnya tersusun sebuah rencana sementara. Saya , Ocha ,Abah dan Orin akan berangkat dari Jogja, sementara Kang Gusti dan Harish berangkat dari Bandung tanggal 15 dan bertemu di Semarang kemudian melanjutkan perjalanan dengan mobil dari Semarang.
                Hari minggu, 15 Juli 2012, saya baru sadar waktu sedang di airport. Rencana ke Dieng besok masih belum mateng. Saya akhirnya menelepon Mbak Orin untuk memastikan rencana perjalanan kami. Akhirnya rencana berubah dan berhasil fix juga setelah saya bertanya-tanya bis apa yang harus saya naiki dari Jogja ke teman.Rencananya saya, Abah dan Ocha rencananya berangkat jam 4 sore dari Terminal jombor dengan bis trayek Jogja- Semarang kemudian turun di Terminal Tidar Magelang  bertemu dengan Mbak Orin dan berangkat menuju Secang, meeting point  saya dan Kang Gusti dan Harish. namun jam 10 pagi tiba-tiba Ocha sms saya untuk memajukan jadwal dan berangkat lebih siang.  Akhirnya saya setujui saya setelah packing dadakan dan menuju kos Abah untuk berangkat ke terminal Jombor. Motor saya titipkan di tempat penitipan motor.
                Kami berangkat pukul setengah 12 dari Jombor dengan bis Sumber Waras. Saya cukup membayar 8 ribu. Sayang perjalanan sedikit ternoda waktu ada waria naik ke bis dan duduk di sebelah saya. Otomatis saya cuma bisa diam sembari mengeluarkan keringat dingin. Saya cuma bisa berharap ini waria segera turun dari bis. Akhirnya 20 menit nelangsa berakhir juga, mas atau mbak entahlah itu pindah ke kursi depan. Heran banyak kursi kosong tapi malah milih tempat duduk yang udah nyaris sempit gini. Jam 12.30 kami sampai di Terminal Tidar,tinggal menunggu Mbak Orin datang dari Temanggung. Tidak lama setelah Mbak Orin datang kami langsung menuju bis ¾ yang menuju terminal Secang.
                Berangkat pukul 1.48 dari Secang, kami ternyata mengendarai bis yang cukup brutal alias kejar setoran. Jalur yang dilewati ternyata bukan jalur yang semestinya. Tidak heran kami hanya membutuhkan sekitar 20 menit untuk sampai di Secang. Edan tenan. Sesampai di Secang kami mampir ke warung makan padang untuk makan siang sembari menunggu Kang Gusti dan Harish dari semarang.  Jam 3 sore kurang Kang Gusti sudah sampai di Secang, dan kamipun bersiap berangkat menuju Wonosobo.
                Perjalanan yang kami lalui alhamdullilah lumayan lancar. Tidak terlalu lama terkena macet. Sampai akhirnya pukul 16.43 kami sampai di Wonosobo dengan cuaca yang dingin dan kabut yang cukup tebal. 17.15 kami menuju jalan yang sepertinya salah waktu menuju Dieng. Jalanannya seperti ular diikuti kabut yang cukup tebal dengan jarak pandang berubah-rubah mulai dari 15 hingga paling parah cuma 5 meter. Untung cuaca belum begitu lebat sehingga kami masih bisa nekat melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya pukul 17.25 kami kembali ke jalanan yang normal dan 20 menit kemudian kami mulai memasuki gerbang bertuliskan Dieng! Saya salah besar, ternyata tulisan Dieng tadi baru bagian awal banget dari Dieng. Perjalanan kami di jalan ular dan kabut tebal belum berakhir.
                18.00 kami hanya bisa mengandalkan lampu motor dan berhenti sejenak apabila sudah kehilangan pandangan menunggu mobil lain menyelip kemudian kami ikuti. Jarak pandang benar-benar cuma 5 meter dan tidak membaik sama sekali. Sampai akhirnya kami selamat dari jalan ular penuh kabut nan bahaya itu dan sampai (kali ini benar) di Dieng Plateu, dataran tinggi dieng! Huaduh cuacanya dingin banget, saya seperti tinggal di Eropa (emang udah pernah?) dan saat bernafas atau berbicara mengeluarkan asap. (ndeso ya saya?). Waktu itu jam baru sekitar jam 7 dan suasana di sana benar-benar sepi. Ada beberapa yang menawarkan homestay , namun kami memutuskan untuk berhenti dan makan di warung bakmi. Saya memesan Cap Cay (yang sayangnya terlalu asin) dan Jahe Susu (Yang sayangnya cepat dingin karena dinginnya cuaca) sambil mengobrol dan meluruskan badan yang sudah 3 jam lebih di mobil. Kami masih belum memutuskan akan tidur di mobil, atau mencari penginapan terdekat.
                20.00 Kami mulai tanya-tanya harga homestay terdekat, ada yang 150 semalam, ada yang 50 ribu semalam, ada yang 200 ribu semalam. Sampai akhirnya setelah melihat kondisi kami yang membutuhkan kamar mandi akibat dinginnya cuaca dan harus beser berkali-kali, kami memutuskan mencari penginapan. Awalnya penginapan yang kami tuju bernama Dieng Pass menawarkan harga 200 rbu hanya untuk4 orang dan 150rb untuk 3 orang. Namun entah gimana nego Kang Gusti dan Harish, kami berhasil mendapat kamar untuk 6 orang dengan kamar mandi dalam, air panas hanya dengan 250 rbu. Wah bakalan tidur nyenyak nih sebelum mencari sunrise besok pagi. Akhirnya kami bertemu dengan kasur juga Yipi! Bahkan kami diberi termos berisi air panas untuk membuat teh. Wah baru jam setengah 9 tapi rasanya di Dieng sudah seperti jam 12 malam di Jogja. Selain itu mata sudah tidak mampu bertahan. Saatnya menyalakan alarm dan beristirahat untuk hunting sunrise besok.
                Pukul 04.00 kami sudah bangun, bersiap menuju Sikunir. Sialnya kami lupa mengkonfirmasi ke pemandu kalau kami jadi menggunakan jasanya pagi itu. Sehingga kami hanya bisa menunggu di mobil menunggu kepastian (ceilah bahasanya) dari Pak Didi apakah ada pemandu yang bisa menemani kami ke atas. Akhirnya setelah 20 menit diambil keputusan, Pak Didi akan menunjukkan arah ke Sikunir dengan sepeda motor. Ternyata benar juga kalau tadi kami nekat berangkat sendiri mungkin bakal nyasar kemana-mana mengingat tidak petunjuk jalan yang valid menuju Sikunir. Jalanan masih sepi dan tidak ada orang yang bisa ditanya.
                04.45 kami sudah sampai di Sikunir, kemudian dengan terburu-buru kami segera melanjutkan perjalanan ke atas. Saya kira trekking yang satu ini tidak terlalu sulit. Ternyata saya salah. Jalur menuju ke atas agar bisa menyaksikan sunrise ternyata harus melewati jalanan yang sangat tinggi dan melelahkan. Pak Didi juga sudah pulang karena perjanjian awalnya hanya mengantarkan sampai atas. Saya yang entah kenapa terlalu semangat pada awalnya akhirnya merasa hampir mati dan berkunang-kunang waktu masih setengah perjalanan. Haduh belum sarapan dan jarang olahraga merupakan kombinasi yang tepat. Saya nyaris menyerah sementara Abah dan Harish sudah meninggalkan kami sangat jauh. Berkali-kali saya ngomong sama Kang Gusti “Kang ane nyerah kang...” tapi kaki saya masih memaksa saya untuk naik ke atas. Baru setengah perjalanan, matahari yang dinanti-nanti akhirnya muncul juga. Kami bertiga , saya,Mbak Orin dan Kang Gusti berhenti sejenak sementara Ocha sudah menyusul Abah dan Harish. Saya melihat siluet beberapa orang di puncak dan entah kenapa termotivasi “Sudah jauh-jauh kok cuma sampai sini, saya harus menyusul”. Saya pergi meninggalkan Kang Gusti dan Mbak Orin, walaupun nafas saya udah nggak karuan dan isi perut serasa mau keluar semua saya masih nekat melanjutkan perjalanan ke atas. Kondisi jeans saya udah nggak karuan kotornya. Tangan saya serasa mati rasa. Dingin banget. Sampai akhirnya saya melihat puncak yang saya lihat di bawah tadi. Wah akhirnya, dengan susah payah saya naik berharap bertemu Abah, Harish dan Ocha yang sudah sampai terlebih dahulu. Jreng-jreng saya ternyata salah. Di sana sama sekali tidak ada siapa-siapa. Tapi saya  terkadung sudah kecapekan dan muntah-muntah. Mau foto sunrise dan pegunungan saja susah payah tekan shutternya dengan kondisi tangan yang mati rasa. Saya mencoba beristirahat sejenak sambil memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini. Duh saya dimana ini, saya kira mereka ada di puncak yang lebih tinggi lagi. AKhirnya setelah merasa enakan saya turun ke bawah. Berharap bertemu beberapa orang, karena saya mendengar suara dari puncak tadi. Ternyata ada spot di bawah untuk menyaksikan sunrise juga. Ada beberapa orang di sana namun saya tidak menemukan teman-teman saya, sampai akhirnya saya memutuskan turun saja dan waktu baru setengah turun, Abah memanggil saya dari bawah. Wah ternyata saya tidak mengecek tempat tadi sampai bawah, ternyata teman-teman saya ada di bawah sana. Hati akhirnya lega juga sekaligus bangga bisa sampai di tempat seperti itu. Perjalanan kami tutup dengan foto-foto. Rugi sampai atas nggak foto-foto :p
                05.30 Kami memutuskan turun dan berniat mengunjungi Candi Arjuna sembari mencari tempat makan. Perut rasanya keroncongan apalagi saya yang sudah “jackpot” tadi di atas. Cuaca masih dingin walaupun kondisi langit sangat cerah dan matahari bersinar dengan pede. Sekitar 20 menit kami sudah tiba di Candi Arjuna. Tiket masuknya 10 ribu. Sesampai di sana matahari sudah bersinar terik tapi herannya nafas masih mengeluarkan asap. Gila kalau saya tinggal di sini mungkin bisa tambah putih sama makan terus kali ya? Candi Arjuna sendiri tidak terlalu istimewa kalau dibandingkan dengan candi di Prambanan. Namun saya sih seneng-seneng aja karena waktu itu lokasi candi masih sepi. Berfoto-foto tentu jadi kegiatan wajib sampai akhirnya kami menyadari ada kesamaan di antara kami. Ya kami lapar setengah mati. Err.
                08.30 Kami makan di warung yang ada di lahan parkir Candi Arjuna. Menu yang kami pesen sama semua, Mie Rebus yang (lagi-lagi) sudah tidak terlalu panas karena cuaca yang dingin. Coffeemix saya pun sudah tidak panas lagi. huh. Perut saya masih minta diisi ternyata, akhirnya saya ambil nasi dan telur balado yang ada di buffet warung itu. Jam 09.10 kami kembali ke penginapan untuk tidur lagi. Masih ngantuk komandan!
                11.30 saya terbangun dan melihat teman saya masih pules. Kondisi kami masih belum mandi semua sejak siang kemarin. Tentu saja di daerah seperti itu sepertinya membuat orang ingin tidur terus-terusan. Saya pun masih bergumul mesra sama selimut tebal. Lantai kamarpun kondisinya masih sama seperti malam kemarin., dingin banget. Pintu kamar di ketok setengah jam kemudian. Kami harus check out jam setengah 1 siang. Wah, saatnya pulang dari Kota Kulkas ini. Walaupun cuma mengunjungi 2 objek saya sudah cukup puas. Satu hal yang pasti saya akan balik lagi ke Dieng Plateu! Kota Kulkas.


NB: Ternyata waktu musim kemarau suhu bisa mencapai 0 derajat. WOW. 



Ini nih yang bikin nggak kelihatan waktu perjalanan menuju Dieng Plateu


Penginapan Kami, Dieng Pass.. Recommended












 Nampang 






Kelihatannya cuma jalan biasa kalau udah turun, waktu naik? hadeh.. umur berbicara ..




  Bau "sedap" di pagi hari. Bau PupuK Kandang




Kondisi jeans saya setelah perjalanan brutal. Hiks.








Sebenernya bisa aja lihat sunset dari Gardu Pandang ini, tapi ya kurang berasa ke Dieng Plateunya


Teh Purwaceng, sempet diketawain pelayan waktu pesen ini, ternyata ini minuman penambah kejantanan. Sial

 Sate Sapi temen makan Mie Ongklok


Mie Ongklok 


Sambel Mie Ongklok, pedes banget


Muka kelaparan sama kepedesan


Mampir beli bakso temanggung waktu di Temanggung. 

No comments:

Post a Comment